Maskapai penerbangan berbiaya rendah Spirit Airlines secara resmi menghentikan seluruh operasional penerbangannya pada Sabtu, 2 Mei 2026, pukul 03.00 waktu setempat. Keputusan ini diambil setelah perusahaan gagal memperoleh dukungan pendanaan baru guna mengatasi krisis keuangan yang berkepanjangan, dilansir dari Detik Travel.
Penghentian layanan tersebut mencakup penutupan pusat layanan pelanggan serta loket tiket di berbagai bandara. Langkah drastis ini menandai dimulainya proses likuidasi yang tertib bagi maskapai yang belum mencatatkan keuntungan sejak tahun 2019 tersebut.
Menteri Transportasi Amerika Serikat, Sean Duffy, menyoroti kegagalan merger antara Spirit Airlines dan JetBlue sebagai pemicu utama kejatuhan ini. Duffy menyalahkan kebijakan pemerintahan Joe Biden yang melalui Departemen Kehakiman memblokir rencana penggabungan kedua perusahaan tersebut.
"Pemerintahan Joe Biden-Pete Buttigieg dan Departemen Kehakiman menggagalkan kesepakatan itu," kata Duffy dalam acara ABC This Week dilansir Yahoonews, Selasa (5/5/2026).
Duffy menegaskan bahwa pengajuan perlindungan kebangkrutan dilakukan oleh pihak maskapai sesaat setelah rencana kerja sama strategis tersebut menemui jalan buntu di tingkat regulasi federal.
"Segera setelah itu, mereka mengajukan kebangkrutan," dia menambahkan.
Kondisi operasional di lapangan saat ini dipastikan berhenti total sehingga penumpang yang telah memiliki tiket dihimbau untuk tidak melakukan perjalanan ke bandara. Duffy menyatakan bahwa dukungan operasional bagi konsumen sudah tidak tersedia lagi di lokasi.
"Spirit tidak memiliki pesawat yang sedang terbang pagi ini," kata Duffy.
Pejabat terkait menegaskan bahwa tidak ada personel maskapai yang bertugas untuk melayani keluhan atau bantuan teknis bagi para calon penumpang yang terdampak penutupan mendadak ini.
"Jika Anda memiliki jadwal penerbangan dengan Spirit Airlines, jangan datang ke bandara. Tidak akan ada yang bisa membantu Anda di sini," dia menambahkan.
Beban finansial Spirit Airlines tercatat semakin berat akibat lonjakan harga bahan bakar jet yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah. Meskipun pemerintah era Trump sempat mengusulkan dana talangan sebesar USD 500 juta, rencana itu ditolak oleh kreditur yang mengkhawatirkan posisi utang mereka.
Dampak penutupan ini sangat signifikan bagi industri penerbangan karena Spirit Airlines berperan dalam menekan harga tiket di pasar Amerika Serikat. Selain berdampak pada kenaikan tarif rute domestik, sekitar 17.000 karyawan dan kontraktor kini kehilangan pekerjaan mereka.
Guna meminimalisir kekacauan transportasi, maskapai lain seperti United Airlines, Delta Air Lines, Southwest Airlines, dan JetBlue Airways mulai membantu pemulangan karyawan. Perusahaan-perusahaan tersebut juga menerapkan batas atas harga tiket bagi penumpang Spirit Airlines yang terdampar.