Fisik yang bugar dan olahraga rutin tidak menjamin kesehatan organ dalam seseorang terbebas dari masalah kardiovaskular akibat pengaruh stres kerja serta faktor genetik. Hal ini dialami oleh penyiar radio Iwet Ramadhan dan presenter Dave Hendrik dalam acara peluncuran tensimeter Omron SF Series di Jakarta Selatan pada Rabu (20/5/2026).
Dilansir dari Lifestyle, penumpukan stres akibat pekerjaan serta waktu istirahat yang tidak teratur memicu lonjakan tekanan darah tinggi hingga menyebabkan stroke pada Iwet Ramadhan. Sementara itu, Dave Hendrik mengalami penyumbatan pembuluh darah jantung di tujuh titik akibat faktor bawaan genetik yang memengaruhi toleransi kolesterol tubuh.
"Sesehat-sehatnya apa pun elo, eventually elo akan punya risiko untuk sakit parah. That's for sure," ungkap Dave Hendrik selaku presenter.
Gangguan kesehatan tersebut tetap mengintai meskipun Dave telah konsisten menerapkan diet ketat demi menjaga kebugaran sejak usia 24 tahun. Kondisi fisik luar yang prima diakui tidak selalu berbanding lurus dengan kondisi organ dalam tubuh.
"Orangtua saya tidak hanya mewariskan saya bakat bicara, tapi juga mewariskan bawaan kondisi badan yang emang dari default pabriknya udah begitu," kata Dave Hendrik.
Penyakit kardiovaskular ini sebelumnya sempat memberikan sinyal peringatan berupa gejala-gejala fisik awal yang sayangnya sempat diabaikan oleh kedua figur publik tersebut. Iwet Ramadhan mengira pembuluh darah matanya yang pecah berulang kali serta sakit kepala konstan hanya kelelahan biasa.
"Stres itu tuh benar-benar membuat semua tuh hancur. Jadi pembuluh darahnya berantakan, aku enggak pernah cek, dan kejadian (stroke)," ucap Iwet Ramadhan yang juga menjabat sebagai Head of Communication Yayasan Jantung Indonesia.
Iwet mengaku hanya mengonsumsi obat pereda nyeri secara mandiri untuk mengatasi keluhan yang terjadi sejak Januari hingga Februari 2023 tersebut sebelum akhirnya mengalami stroke akut.
"Gejala yang aku alami itu, constantly nonstop aku sakit kepala dari Januari sampai ke Februari 2023. Dan aku diemin karena aku pikir, 'Ya elah sakit kepala aja'," ujar Iwet Ramadhan.
Di sisi lain, Dave Hendrik juga mengabaikan rasa sesak mendadak dan dada yang terasa panas seperti ditimpa besi setelah selesai bekerja pada sore hari di bulan April 2023.
"Rasanya tuh kayak ada lempengan besi menimpa dada. Ada rasa panasnya, dan itu constant," tutur Dave Hendrik.
Pengalaman kritis ini menyadarkan keduanya mengenai pentingnya mendengarkan setiap keluhan tubuh dan rutin memeriksa kondisi kesehatan fisik, termasuk mengukur tekanan darah.
"Buat aku, the most honest person on this planet is actually our body. When it gives you signal, itu bahasa dia mencari perhatian," tambah Dave Hendrik.
Fondasi gaya hidup sehat yang telah dibangun sebelumnya membantu proses pemulihan fisik keduanya berjalan lebih cepat pasca-operasi. Iwet dan Dave kini menerapkan batasan olahraga yang lebih aman serta memperketat kedisiplinan istirahat.
"Proses recovery itu yang terbayar tunai dengan apa yang kita lakukan, pilihan gaya hidup sehat dan berolahraga. Kalau elo sakit pasti akan jauh lebih cepat (terjadi stroke atau serangan jantung)," jelas Dave Hendrik.
Kini keduanya membiasakan diri tidur lebih awal antara pukul 21.00 hingga 22.00 dan rutin memeriksa tekanan darah menggunakan tensimeter setiap pagi. Khusus untuk Iwet, fokus pemulihannya kini ditambah dengan mengelola emosi demi menjaga ketenangan pikiran.
"Ketika ada sesuatu yang terjadi, dan tidak sesuai dengan keinginan, aku berusaha untuk kayak, 'Oke, ini bisa diatasi atau tidak?'. Kalau misalnya jawabannya tidak bisa diatasi, let it go," pungkas Iwet Ramadhan.