Studi Baru Ungkap DNA Kendalikan 55 Persen Rentang Usia Manusia

Studi Baru Ungkap DNA Kendalikan 55 Persen Rentang Usia Manusia

Keinginan untuk berumur panjang tidak hanya ditentukan oleh penerapan pola hidup sehat semata. Batas usia seseorang ternyata sangat dipengaruhi oleh faktor genetik bawaan yang tidak dapat diubah oleh manusia.

Sebuah kajian ilmiah terbaru membuktikan bahwa porsi DNA dalam menentukan rentang hidup jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Topik penelitian ini dulunya sangat sulit dianalisis karena memerlukan waktu puluhan tahun untuk mengumpulkan data usia manusia secara akurat.

Penelitian terdahulu yang tertuang dalam kajian ilmiah bertajuk "The heritability of human longevity: a population-based study of 2872 Danish twin pairs born 1870-1900" menunjukkan hasil berbeda. Studi tersebut mencatat bahwa faktor gen hanya berkontribusi sebesar 20 sampai 25 persen terhadap hasil akhir usia seseorang.

"Angka itu jauh lebih kecil dibandingkan sifat bawaan lain seperti indeks massa tubuh, yang berkisar sekitar 50 persen," kata dokter kedokteran darurat sekaligus pakar umur panjang di Biograph, Michael Doney, dikutip dari Lifestyle.

Penelitian terbaru bertajuk "Heritability of intrinsic human life span is about 50% when confounding factors are addressed" yang terbit Januari 2026 membawa temuan baru. Riset ini mengungkapkan bahwa komposisi genetik memegang kendali hingga 55 persen dari rentang usia manusia.

Sementara itu, sisa porsi sebesar 45 persen berasal dari faktor keseharian yang berada di bawah kendali manusia. Faktor-faktor yang dapat dikontrol tersebut meliputi pola makan, kualitas tidur, serta rutinitas dalam berolahraga.

"Jika pewarisan genetik tinggi, gen umur panjang dapat mengungkap mekanisme penuaan dan memberi informasi pada pengobatan dan kesehatan masyarakat," ujar dokter spesialis umur panjang dan pakar genetika di Parsley Health, Nisha Chellam, M.D.

Mengukur Pengaruh Biologis Lewat Studi Saudara Kembar

Para peneliti menganalisis basis data independen yang memuat daftar saudara kembar untuk mengukur pengaruh biologis tersebut. Salah satu data yang digunakan berasal dari Swedish Adoption/Twin Study of Aging yang memungkinkan perbandingan DNA kembar yang dibesarkan secara terpisah.

"Hipotesisnya adalah kembar identik berbagi 100 persen materi genetik, dan kembar non-identik berbagi 50 persen materi genetik. Jadi, jika kembar identik memiliki usia yang mirip, maka gen pasti berpengaruh," kata dr. Chellam.

Metode penelitian melalui saudara kembar ini membantu para ilmuwan untuk meminimalkan dampak dari faktor luar seperti kondisi lingkungan ataupun gaya hidup. Hasilnya, peneliti dapat menjadi lebih fokus dalam mengamati hubungan langsung antara usia dengan faktor biologis dan genetika.

Data yang telah disaring kemudian dicocokkan dengan catatan penduduk yang berusia di atas 100 tahun di Amerika Serikat. Langkah ini diambil guna menekan kemungkinan munculnya bias yang disebabkan oleh perbedaan lokasi penelitian.

Melalui pencocokan data tersebut, saudara kandung dari orang-orang yang mencapai usia seabad menunjukkan pola pewarisan genetik yang serupa dengan kembar non-identik, yakni berkisar pada angka 50 persen.

Dr. Chellam menambahkan bahwa pengaruh penyakit yang diturunkan dalam keluarga menjadi terlihat lebih jelas ketika faktor kematian dari luar disingkirkan. Faktor luar yang dieliminasi tersebut meliputi kecelakaan ataupun kondisi lingkungan.

Kondisi medis yang diwariskan dalam keluarga dan menjadi lebih terlihat mencakup penyakit jantung, demensia, hingga kanker. Temuan ini semakin memperkuat kesimpulan bahwa faktor keturunan memiliki andil besar terhadap peluang umur panjang.

Perbedaan Tingkat Pengaruh Genetik pada Jenis Penyakit

Individu yang memiliki gen umur panjang cenderung lebih lambat dalam mengembangkan kondisi medis kronis. Proses penuaan pada organ-organ vital seperti pembuluh darah, otak, tulang, dan jantung berjalan jauh lebih lambat sehingga masa sehat mereka menjadi lebih panjang.

Kendati demikian, efektivitas kerja genetik memiliki besaran yang bervariasi pada setiap jenis penyakit. Pada kasus penyakit jantung, faktor genetika menyumbang separuh dari total risiko yang ada.

Persentase pengaruh genetik ini meningkat hingga mencapai 70 persen pada penyakit demensia. Sementara itu, untuk kasus penyakit kanker, faktor keturunan memegang pengaruh sekitar 30 persen.

Para ahli tetap menegaskan pentingnya menjalankan pola hidup sehat guna menurunkan risiko penyakit kronis. Langkah preventif ini tetap wajib dilakukan meskipun seseorang memiliki riwayat gen panjang umur di dalam keluarganya.

"Umur panjang lebih sederhana dari yang kita bayangkan. Fokuslah pada pilar kesehatan, yaitu bergerak, nutrisi, pengurangan stres, tidur, dan komunitas," tutur dr. Chellam.

"Gen sangat memengaruhi cara kita menua dan berapa lama kita bisa hidup, tetapi usia di dunia nyata tetap bergantung pada seberapa baik kita melindungi kesehatan seiring berjalannya waktu," pungkas Michael Doney.

Artikel terkait

Rekomendasi