Studi HCC Ungkap Mayoritas Anak Muda Gunakan AI Untuk Swadiagnosis

Studi HCC Ungkap Mayoritas Anak Muda Gunakan AI Untuk Swadiagnosis

Sebanyak 60 persen anak muda urban berusia di bawah 40 tahun lebih memilih melakukan swadiagnosis menggunakan mesin pencari berbasis AI dan Google saat mengalami keluhan kesehatan. Fenomena ini terungkap dalam studi Health Collaborative Center (HCC) yang dilakukan pada Maret hingga Mei 2026 di berbagai kota besar di Indonesia.

Data penelitian tersebut menunjukkan bahwa hanya 40 persen dari mereka yang melakukan diagnosis mandiri kemudian melanjutkan pemeriksaan ke dokter. Dilansir dari Suara, sebanyak 36 persen responden justru memilih untuk mengobati diri sendiri berdasarkan informasi yang mereka temukan secara digital.

Ketua Peneliti dan Pendiri HCC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menjelaskan rincian perilaku medis para responden dalam sebuah pertemuan media di Jakarta pada Rabu (13/5/2026). Ia menyoroti rendahnya angka tindak lanjut medis profesional setelah pencarian informasi mandiri.

"Dari anak muda yang melakukan swadiagnosis, hanya 40 persen yang memutuskan pergi ke dokter. Sementara 36 persen memilih mengobati sendiri," jelas Dr. Ray dalam media briefing di Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Hasil studi ini juga mencatat bahwa 57 persen hasil diagnosis mandiri tersebut memang dikonfirmasi benar oleh dokter. Namun, terdapat 27 persen pasien yang mengabaikan resep dokter karena merasa informasi yang mereka dapatkan dari internet lebih meyakinkan.

"Ketika seseorang merasa hasil pencarian internetnya beberapa kali terbukti benar, maka kepercayaan terhadap proses swadiagnosis akan meningkat. Ini bisa membentuk ilusi kompetensi medis semu di masyarakat, karena sebenarnya yang dianggap cocok dengan dokter itu bisa jadi hanya hasil skrining risiko penyakit dan bukan diagnosis," ujarnya.

Terdapat tiga alasan utama mengapa masyarakat beralih ke teknologi AI, yakni kepraktisan waktu, efisiensi biaya, dan menghindari antrean panjang di fasilitas kesehatan. Kemudahan akses informasi digital membuat proses ini terasa lebih personal bagi pengguna di daerah perkotaan.

"Sebagian masyarakat merasa datang ke fasilitas kesehatan membutuhkan waktu panjang, antre, biaya tambahan, dan energi emosional. Akhirnya internet dianggap lebih praktis, lebih cepat, lebih murah, dan terasa lebih personal," kata Dr. Ray.

Meskipun efisien, praktik ini membawa risiko kesehatan yang serius seperti salah diagnosis, keterlambatan penanganan medis, hingga kecemasan berlebih atau health anxiety. HCC menekankan pentingnya pembangunan literasi kesehatan digital yang bertanggung jawab untuk menghadapi banjir informasi.

"Ke depan, tantangannya bukan melarang masyarakat mencari informasi kesehatan di internet. Itu hampir mustahil. Tantangannya adalah bagaimana negara, tenaga kesehatan, platform digital, dan institusi pendidikan membangun literasi kesehatan digital yang sehat dan bertanggung jawab," ucap Dr. Ray.

Penelitian melibatkan 448 responden dari wilayah Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta melalui pendekatan mixed-method. Hasil akhir penelitian menunjukkan masyarakat kini menggunakan internet sebagai alat rekonfirmasi utama terhadap diagnosis maupun terapi medis yang diberikan oleh tenaga profesional.

Artikel terkait

Rekomendasi