PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) berencana melakukan penghapusan pencatatan saham atau delisting dari perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk kemudian menjadi perusahaan tertutup atau go private.
Rencana tersebut dibahas oleh direksi perseroan bersama pemegang saham pengendali, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), dalam paparan publik pada Rabu (20/5), dilansir dari Detik Finance.
"Perseroan bersama-sama dengan Protelindo (selaku pemegang saham pengendali) telah melakukan evaluasi secara menyeluruh atas strategi bisnis jangka panjang Grup dalam rangka pengelolaan aset dan operasional yang lebih efisien," tulis materi Paparan Publik SUPR.
Berdasarkan Keterbukaan Informasi BEI, perseroan akan menggelar penawaran tender sukarela atau voluntary tender offer (VTO) kepada seluruh pemegang saham publik pada 15 Juni hingga 14 Juli mendatang dengan harga Rp45.000 per saham.
Sebelum proses tender berlangsung, perdagangan saham emiten raksasa Grup Djarum ini akan dihentikan sementara, di mana harga penawaran ditetapkan lebih tinggi dari harga rata-rata tertinggi perdagangan harian selama 12 bulan terakhir.
"Harga pembelian saham harus lebih tinggi dari harga rata-rata dari harga tertinggi perdagangan harian di BEI dalam jangka waktu 12 bulan terakhir dihitung mundur dari harga perdagangan terakhir atau Tanggal Suspensi, yaitu sebesar Rp 42.295 per saham. Berdasarkan hal tersebut, harga yang akan ditawarkan Protelindo kepada para pemegang saham adalah senilai Rp 45.000 per saham," tulis Manajemen.
Saat ini, saham SUPR berada di level Rp43.850 per saham dan sedang disuspensi serta masuk papan pemantauan khusus Full Call Auction (FCA) karena tidak memenuhi ketentuan free float 15% serta memiliki likuiditas rendah.
Pihak manajemen mengonfirmasi bahwa ketidakmampuan memenuhi ketentuan transisi minimum free float tersebut menjadi salah satu alasan utama di balik keputusan korporasi ini.
"Mempertimbangkan hal di atas serta berdasarkan evaluasi secara menyeluruh oleh manajemen perseroan atas strategi bisnis jangka panjang perseroan dan Grup perseroan dalam pengelolaan aset dan kegiatan operasional yang lebih efisien, termasuk melalui restrukturisasi kepemilikan saham dalam Grup perseroan, perseroan memutuskan untuk mengajukan rencana go private dan delisting," jelasnya.
Proses ini dijadwalkan berlangsung bertahap setelah RUPSLB pada 20 Mei 2026, diikuti pengumuman pernyataan VTO pada 22 Mei 2026, hingga perkiraan pembatalan pencatatan efek oleh BEI pada 10 Maret 2027.