Mayoritas pengguna aplikasi kencan di Amerika Serikat kini menghadapi fenomena kejenuhan emosional yang tinggi. Berdasarkan data terbaru, tingkat kelelahan mental akibat pencarian pasangan secara digital telah menyentuh angka yang mengkhawatirkan.
Riset terbaru dari Forbes Health terhadap 1.000 pengguna aplikasi kencan di Amerika Serikat mendapati bahwa 78 persen responden mengalami burnout akut, seperti dilansir dari Suara. Tekanan psikologis ini secara nyata memengaruhi kesehatan mental para lajang.
Kelelahan dalam mengambil keputusan atau decision fatigue menjadi salah satu pemicu utama kondisi tersebut. Pengguna terus dihadapkan pada ribuan profil tanpa henti, yang lambat laun mengaburkan peluang membangun hubungan emosional mendalam.
Generasi muda tercatat menjadi kelompok yang paling merasakan dampak kejenuhan ini. Tingginya intensitas komunikasi digital dan durasi penggunaan aplikasi kencan disinyalir memicu kerentanan emosional mereka.
Dari segi gender, perempuan dilaporkan lebih rentan mengalami kelelahan emosional dibandingkan laki-laki. Data survei menunjukkan sebanyak 80 persen perempuan merasakan kelelahan tersebut, sedangkan pada laki-laki angkanya mencapai 74 persen.
Rufus Tony Spann, Ph.D., seorang terapis seks bersertifikat dan anggota Dewan Penasihat Kesehatan Forbes, menjelaskan perbedaan tersebut berkaitan dengan cara membangun hubungan.
"Perempuan cenderung memimpin dengan koneksi emosional, sementara laki-laki dengan koneksi fisik. Koneksi emosional bisa berdampak lebih dalam, sehingga lebih melelahkan ketika tidak berjalan sesuai harapan," kata Rufus Tony Spann, Ph.D.Ia menambahkan bahwa membangun keintiman emosional secara berulang dengan orang yang berbeda menjadi tantangan berat untuk pulih saat hubungan itu kandas.
Berbagai Faktor Penyebab Dating App Fatigue
Penyebab di balik munculnya dating app fatigue ini sangat bervariasi. Kesulitan dalam menemukan ikatan yang bermakna menjadi alasan utama yang dipilih oleh 40 persen responden dalam survei.Beberapa faktor lain yang turut memicu kejenuhan pengguna meliputi kekecewaan terhadap orang lain sebesar 35 persen serta perasaan ditolak yang mencapai 27 persen.
Selain itu, 24 persen responden merasa lelah karena percakapan berulang, 22 persen akibat aktivitas swiping profil, dan 21 persen karena waktu yang habis di aplikasi. Beban mengelola profil serta tekanan berpenampilan tertentu juga dirasakan oleh sekitar 20 persen dan 18 persen pengguna.
Tren interaksi modern yang negatif ikut memperparah kondisi mental pengguna. Sebanyak 41 persen responden mengaku pernah menjadi korban ghosting atau diputus kontak tanpa penjelasan.
"Banyak orang hanya menggeser layar tanpa benar-benar ingin terhubung, atau hanya mencari hubungan fisik. Ada juga yang memulai percakapan lalu menghilang begitu saja," ujar Rufus Tony Spann, Ph.D.Fenomena lain seperti catfishing atau pemalsuan identitas profil juga dialami oleh 38 persen responden. Praktik ini dinilai memiliki dampak yang sangat serius bagi korban.
"Catfishing dapat menyebabkan kerusakan psikologis, fisik, dan emosional," kata Rufus Tony Spann, Ph.D.Pengalaman buruk lain yang dilaporkan meliputi love bombing sebesar 27 persen, gaslighting sebanyak 26 persen, perselingkuhan sekitar 21 persen, serta pelecehan, rasisme, atau seksisme sebesar 18 persen.
Langkah Strategis Mengatasi Kelelahan Mental
Para pakar dari Dewan Penasihat Kesehatan Forbes memberikan sejumlah rekomendasi untuk mengatasi kejenuhan ini. Langkah pertama adalah bersikap penuh kesadaran atau mindful saat menggunakan aplikasi.
Langkah kedua adalah menetapkan batasan waktu yang tegas agar aktivitas kencan digital tidak menyita energi layaknya pekerjaan kedua. Batasan ini penting untuk mencegah kelelahan emosional yang berlebihan.
Rekomendasi terakhir adalah mengambil jeda atau beristirahat dari aplikasi selama beberapa hari hingga seminggu untuk memulihkan energi psikologis saat pengguna mulai merasa kesal atau mati rasa.