PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) menetapkan target optimistis untuk performa keuangan mereka pada tahun buku 2026. Emiten energi panas bumi ini membidik perolehan pendapatan pada rentang US$445 juta hingga US$455 juta.
Dikutip dari Market, perseroan juga mematok target laba bersih atau bottom line di angka US$150 juta sampai US$160 juta. Langkah ini sejalan dengan upaya grup usaha Pertamina tersebut dalam memperkuat posisi di sektor energi terbarukan.
Selain pendapatan dan laba, PGEO menargetkan perolehan EBITDA sebesar US$340 juta hingga US$350 juta. Dari aspek operasional, volume produksi ditargetkan mencapai 5.255 giga watt hour (GWh) atau tumbuh 3,14% dibandingkan realisasi tahun 2025.
Guna merealisasikan target pertumbuhan tersebut, perusahaan mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar US$209 juta sepanjang tahun ini. Dana tersebut diprioritaskan untuk mendukung berbagai agenda ekspansi operasional.
Laporan kinerja triwulan pertama 2026 menunjukkan tren positif dengan raihan pendapatan sebesar US$116,55 juta. Angka tersebut setara dengan 26% dari total target tahunan dan mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$101,51 juta.
Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada kuartal I/2026 tercatat sebesar US$43,92 juta. Pencapaian ini sudah memenuhi sekitar 29% dari target tahunan dan melampaui raihan kuartal I/2025 yang berada di angka US$31,37 juta.
Direktur Utama PGEO, Ahmad Yani menyatakan bahwa perseroan memiliki skala aset serta kapabilitas yang mumpuni sebagai pemain panas bumi tingkat global. Saat ini, PGEO mengelola total sumber potensial sebesar 3,3 giga watt (GW).
Kapasitas terpasang saat ini mencapai 727 megawatt (MW) yang dikelola secara mandiri. Terdapat pula tambahan kapasitas sebesar 1,2 GW melalui skema joint operating contract yang tersebar di 15 wilayah operasional perusahaan.
"Yang lebih penting, kami telah membuktikan kemampuan untuk mengeksekusi potensi tersebut. Pada tahun 2025, kami mencatat produksi tertinggi sepanjang sejarah sebesar 5.095 GWh, dengan laba bersih mencapai US$137,7 juta," kata Ahmad Yani.
Dalam peta jalan jangka panjang, PGEO berencana meningkatkan kapasitas pembangkit terpasang secara bertahap. Target terdekat adalah 778 MW pada tahun depan, kemudian meningkat menjadi 988 MW pada 2028, hingga mencapai 1,77 GW pada 2033.
"Ini artinya kami menargetkan hampir 2,5 kali lipat peningkatan kapasitas terpasang dengan rencana pertumbuhan yang terarah," ujar Ahmad Yani.
Strategi peningkatan kapasitas ini didukung oleh perhitungan alokasi belanja modal yang terencana untuk eksekusi organik. Tahun ini, alokasi capex khusus peningkatan kapasitas ditetapkan sebesar US$129.670.
Nilai investasi tersebut diproyeksikan terus naik menjadi US$481.500 pada 2027 dan US$584.930 pada 2028. Puncak alokasi belanja modal untuk ekspansi diperkirakan terjadi pada tahun 2030 dengan nilai mencapai US$992.220.
"Dari sisi investasi, kami secara disiplin mengalokasikan capital untuk menangkap peluang ini. Capex akan meningkat signifikan pada periode 2028 hingga 2031, ini yang mencerminkan fase ekspansi terbesar PGE. Ini bukan sekadar belanja modal, ini adalah capital deployed into high feasibility long duration assets," kata Ahmad Yani.