Perusahaan ritel Amerika Serikat, Target, resmi mengangkat Jeff England sebagai Chief Supply Chain and Logistics Officer baru pada Selasa (18/5/2026). Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari restrukturisasi besar-besaran untuk memperkuat jaringan distribusi perusahaan.
Pengangkatan mantan eksekutif senior Walmart tersebut dilansir dari Target. Jeff England dijadwalkan mulai mengemban tugasnya pada akhir Mei 2026 untuk menggantikan posisi Gretchen McCarthy yang sebelumnya memimpin divisi rantai pasok.
Sebelum direkrut oleh Target, England menjabat sebagai Chief Supply Chain Officer di QXO, sebuah perusahaan pemasok bahan bangunan di Amerika Serikat. Kendati demikian, sebagian besar karier profesionalnya selama hampir dua dekade dihabiskan di Walmart sejak tahun 2004 hingga 2022.
Selama bekerja di ritel terbesar dunia itu, ia menduduki berbagai posisi penting termasuk Senior Vice President untuk divisi supply chain. Pengalaman panjang tersebut membekalinya dengan keahlian mendalam di bidang manajemen distribusi barang, operasional gudang, hingga pengembangan sistem logistik berbasis teknologi.
Dalam wawancara resmi yang dirilis Target pada Rabu (19/5/2026), Jeff England memaparkan pandangannya mengenai integrasi teknologi dalam manajemen logistik modern. Ia menilai Target memiliki potensi besar untuk mengoptimalkan efisiensi melalui pemanfaatan kecerdasan buatan.
"receive center"
Selain itu, England berkomitmen untuk memahami kondisi operasional secara langsung di lapangan. Rencana kerja tersebut didasari oleh pengalaman pribadinya yang pernah bekerja langsung di gudang distribusi, memuat trailer, hingga mengoperasikan forklift.
"korban"
Langkah Target merekrut England bertepatan dengan strategi transformasi bisnis yang dipimpin oleh CEO baru, Michael Fiddelke. Berdasarkan laporan Reuters, Target juga menunjuk Cara Sylvester sebagai Chief Merchandising Officer dan Lisa Roath sebagai Chief Operating Officer.
Saat ini, Target tengah menggelontorkan investasi sekitar US$6 miliar untuk memperbaiki pengelolaan inventaris, mempercepat proses pengiriman, serta meningkatkan pengalaman belanja pelanggan di toko. Perusahaan ritel tersebut juga baru saja membuka pusat penerimaan barang pertamanya di Houston untuk menyokong ketersediaan stok di hampir 2.000 toko mereka di seluruh Amerika Serikat.