Tidur Malam 10 Jam Tingkatkan Kemampuan Sosial dan Akademik Anak TK

Tidur Malam 10 Jam Tingkatkan Kemampuan Sosial dan Akademik Anak TK

Tidur malam yang cukup memegang peranan krusial terhadap proses tumbuh kembang anak, khususnya yang berada di usia taman kanak-kanak. Istirahat yang teratur tidak hanya menyegarkan tubuh, tetapi juga meningkatkan fokus belajar, membantu regulasi emosi, serta mempersiapkan kesiapan mental anak untuk beraktivitas di sekolah.

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics edisi Agustus 2022, seperti dilansir dari Medcom, mengungkapkan bahwa anak-anak yang beristirahat minimal 10 jam setiap malam menunjukkan kecakapan sosial, emosional, dan akademik yang lebih optimal. Pola tidur yang tercukupi ini juga mempermudah proses adaptasi mereka saat mulai memasuki lingkungan sekolah.

Dalam studi tersebut, para peneliti menganalisis data tidur dari 221 keluarga dengan mempertimbangkan variabel lain seperti status kesehatan, kondisi ekonomi, hingga tingkat absensi sekolah. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsistensi waktu tidur malam jauh lebih krusial dibandingkan total durasi tidur harian yang digabungkan dengan tidur siang.

Durasi istirahat selama 10 jam ini melampaui rekomendasi CDC untuk orang dewasa usia 18 hingga 65 tahun yang hanya memerlukan minimal tujuh jam. Perbedaan ini terjadi karena tubuh anak-anak masih berada dalam fase pertumbuhan yang sangat aktif.

“Alasan mengapa anak-anak membutuhkan tidur lebih banyak daripada orang dewasa adalah karena mereka sedang tumbuh, dan anak-anak yang lebih muda membutuhkan tidur lebih banyak daripada anak-anak yang lebih tua karena laju pertumbuhannya,” kata dr. Reeba Mathew.

Dokter spesialis kedokteran tidur di McGovern Medical School, UTHealth Houston, dan Memorial Hermann-Texas Medical ini menjelaskan bahwa pemulihan fisik, regenerasi sel, hingga sekresi hormon pertumbuhan terjadi secara optimal ketika anak berada dalam fase tidur nyenyak. Selain mendukung fisik, aktivitas istirahat ini juga berdampak besar pada kesehatan mental dan daya tangkap dalam belajar.

“Tidur memainkan peran utama dalam pemrosesan dan konsolidasi saraf yang memengaruhi kognisi, memori, pembelajaran, pemecahan masalah, suasana hati, motivasi, konsentrasi, dan perilaku, di antara hal-hal lain,” kata dr. Mathew.

Membangun Rutinitas dan Mengenali Gejala Kurang Tidur

Mengingat tidak semua anak dapat dengan mudah memenuhi durasi tidur 10 jam setiap malam, keterlibatan orang tua menjadi faktor penentu dalam membangun rutinitas yang sehat sejak dini.

“Melindungi jadwal tidur mereka dan menjaganya tetap teratur secara konsisten, berarti mengatur ulang tugas-tugas rumah atau pekerjaan dan pekerjaan rumah tangga jika diperlukan, serta memastikan waktu makan yang teratur,” kata dr. Mathew.

Jadwal tidur ini juga wajib diterapkan secara konsisten pada akhir pekan agar tidak merusak ritme sirkadian tubuh anak. Langkah pendukung lainnya adalah mensterilkan area kamar tidur dari perangkat gawai atau layar elektronik yang berpotensi merusak kualitas rehat.

Dampak kurang tidur pada anak sering kali bermanifestasi berbeda dibanding orang dewasa yang umumnya hanya memperlihatkan rasa lelah. Gejala yang kerap muncul pada anak justru berupa perilaku hiperaktif, ketidakstabilan emosi, hingga penurunan performa akademik di sekolah.

Apabila anak menunjukkan indikasi gangguan tidur yang berkelanjutan, dr. Mathew menyarankan orang tua untuk segera melakukan konsultasi dengan dokter anak agar faktor penyebabnya dapat diidentifikasi lebih awal.

Artikel terkait

Rekomendasi