Tiga Penumpang Kapal Pesiar Meninggal Dunia Akibat Diduga Hantavirus

Tiga Penumpang Kapal Pesiar Meninggal Dunia Akibat Diduga Hantavirus

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Ushuaia menuju Tanjung Verde meninggal dunia akibat diduga terinfeksi hantavirus. Hingga 4 Mei 2026, otoritas kesehatan tersebut telah mengidentifikasi tujuh kasus dugaan, dengan dua di antaranya telah terkonfirmasi melalui pengujian laboratorium.

Laporan mengenai insiden medis di atas kapal pesiar ini pertama kali dilansir dari Lestari. Meskipun infeksi ini jarang terjadi, WHO mencatat bahwa penularan terbatas dari manusia ke manusia pernah dilaporkan pada wabah virus Andes sebelumnya yang merupakan jenis hantavirus tertentu.

"Saat ini, WHO menilai risiko terhadap populasi global dari peristiwa ini sebagai rendah dan akan terus memantau situasi epidemiologi serta memperbarui penilaian risiko," demikian keterangan WHO.

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa investigasi saat ini sedang mendalami keterlibatan strain virus Andes. Jenis ini dikenal langka karena memiliki kemampuan menular antarmanusia melalui kontak yang sangat dekat, berbeda dengan pola umum hantavirus.

"Yang perlu dipahami, hantavirus bukan menyebar dari manusia ke manusia, tetapi dari lingkungan terkontaminasi tikus yang terinfeksi hantavirus. Secara umum, penularan hantavirus itu berbeda jauh dengan Covid-19. Tidak semudah Covid-19 itu ya," ujar Dicky.

Dicky menambahkan bahwa potensi hantavirus menjadi pandemi global sangat kecil karena reservoir utamanya adalah hewan pengerat. Transmisi virus ini dinilai tidak seefisien virus pernapasan lain seperti influenza atau SARS-CoV-2 meskipun kewaspadaan terhadap zoonosis baru tetap harus ditingkatkan.

"Jadi, ancaman hantavirus lebih pada outbreak sporadis dengan fatalitas tinggi jadi bukan pandemi global atau yang cepat menyebar," tutur Dicky.

Munculnya isu wabah baru ini juga memicu trauma sosial dan ketidakpercayaan publik pasca pandemi. Dicky menyoroti kelelahan psikologis, disinformasi, serta inkonsistensi komunikasi risiko sebagai faktor utama yang menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi kesehatan.

"Akibatnya ya muncul kelelahan psikologis terhadap isu wabah baru," ucap Dicky.

Sentimen negatif di media sosial sering kali memperburuk situasi dengan penyebaran informasi yang tidak terfilter. Hal ini sering kali berbenturan dengan narasi ilmiah yang masih dalam tahap awal investigasi epidemiologi.

"Hoaks ini berseliweran tanpa filter yang jelas (di media sosial)," ujar Dicky.

Faktor lain yang mempengaruhi respons publik adalah politisasi isu kesehatan yang menyebabkan polarisasi sosial. Dicky menekankan bahwa ketidakpastian ilmiah merupakan hal normal dalam fase awal sebuah peningkatan kasus penyakit.

"Jadi, di banyak negara termasuk global masyarakat itu melihat perubahan kebijakan cepat, perbedaan pendapat ahli dan politisasi kesehatan. Ini yang menurunkan trust terhadap institusi," tutur Dicky.

Beberapa pihak juga kerap mengaitkan kemunculan wabah dengan kepentingan industri farmasi. Namun, Dicky menegaskan bahwa dalam kasus hantavirus, belum tersedia vaksin global maupun terapi spesifik yang digunakan secara luas oleh publik.

"Banyak juga netizen yang mengaitkan isu wabah dan kepentingan bisnis vaksin atau obat. Nah kita harus melihatnya objektif dan proporsional ya. Benar bahwa industri farmasi adalah industri besar dia juga mencari keuntungan, iya saya tidak pungkiri itu," ucap Dicky.

Penanganan medis utama untuk pasien hantavirus saat ini masih bergantung pada perawatan suportif di unit perawatan intensif (ICU). Dicky membantah narasi yang menyebutkan wabah ini sengaja dibuat untuk kepentingan komersial obat-obatan tertentu.

"Ada kepentingan ekonomi dalam sistem kesehatan global, iya. Tapi tidak berarti setiap outbreak adalah rekayasa bisnis karena dalam kasus hantavirus misalnya, bahkan belum ada vaksin global yang digunakan luas. Terapi spesifik juga sangat terbatas, penanganan utama juga masih suportif care ICU. Jadi, narasi wabah dibuat untuk jual vaksin ya tidak sesuai dengan kasus hantavirus saat ini," tutur Dicky.

Artikel terkait

Rekomendasi