Tiga Penumpang Kapal Pesiar MV Hondius Meninggal Akibat Virus Hanta

Tiga Penumpang Kapal Pesiar MV Hondius Meninggal Akibat Virus Hanta

Tiga orang penumpang kapal pesiar mewah MV Hondius meninggal dunia setelah terpapar virus Hanta saat kapal berada di lepas pantai Tanjung Verde. Dilansir dari Detik Health, insiden medis serius ini melibatkan 149 orang di atas kapal dan memicu pemantauan ketat dari World Health Organization (WHO).

Data organisasi kesehatan dunia menunjukkan bahwa laporan kematian pertama diterima pada 2 Mei 2026 dengan indikasi penyakit pernapasan berat. Hingga 4 Mei, tim medis mengidentifikasi tujuh kasus yang terdiri dari dua kasus konfirmasi laboratorium dan lima kasus suspek, termasuk tiga korban jiwa serta satu pasien kritis.

Rangkaian gejala awal mulai dirasakan para pasien antara 6 April hingga 28 April 2026 berupa demam dan gangguan pencernaan yang memburuk secara cepat. Kondisi tersebut dilaporkan berkembang menjadi pneumonia, sindrom gangguan pernapasan akut, hingga menyebabkan syok pada penderitanya.

"Investigasi lanjutan masih berlangsung. Wabah ini ditangani melalui respons internasional terkoordinasi, termasuk investigasi mendalam, isolasi dan perawatan pasien, evakuasi medis, serta pemeriksaan laboratorium," sorot WHO dalam keterangan resminya.

Penanganan terhadap pasien yang selamat kini menjadi prioritas otoritas kesehatan di lokasi evakuasi, termasuk pemantauan terhadap kontak erat. Menteri Kesehatan Afrika Selatan, Aaron Motsoaledi, mengonfirmasi bahwa seorang pasien asal Inggris yang berada dalam kondisi kritis sedang dalam penanganan intensif.

"Pasien sedang ditangani. Seperti virus lainnya, hantavirus tidak memiliki pengobatan khusus, sehingga yang diberikan adalah perawatan suportif dan penanganan gejala," ujar Aaron Motsoaledi, Menteri Kesehatan Afrika Selatan.

Motsoaledi juga menegaskan bahwa seluruh petugas kesehatan dan individu yang menjalin kontak dengan pasien akan terus ditelusuri. Hal ini dilakukan guna mencegah perluasan penularan meskipun risiko penyebaran antar manusia dinilai rendah.

"Ia menambahkan, petugas kesehatan serta siapa pun yang sempat melakukan kontak dengan pasien akan dilacak dan diperiksa," tambah Aaron Motsoaledi, Menteri Kesehatan Afrika Selatan.

Situasi di dalam kapal pesiar milik Oceanwide Expeditions tersebut saat ini dilaporkan sangat tegang bagi ratusan penumpang yang masih tertahan. Berdasarkan laporan Reuters, protokol pencegahan mewajibkan seluruh penumpang tetap berada di dalam kabin masing-masing selama investigasi berlangsung.

"Kami bukan sekadar cerita, kami bukan sekadar judul berita, kami adalah manusia yang memiliki keluarga, memiliki kehidupan, dan ada orang-orang yang menunggu kami di rumah," ungkap salah seorang penumpang melalui rekaman video.

Kekhawatiran mengenai durasi isolasi dan keamanan medis menjadi tekanan psikologis utama bagi mereka yang berada di tengah laut tersebut. Ketidakpastian jadwal kepulangan memperburuk suasana hati para penumpang yang menanti kejelasan status kesehatan mereka.

"Ada banyak ketidakpastian, dan itulah bagian yang paling sulit. Yang kami inginkan saat ini hanyalah merasa aman, mendapatkan kejelasan, dan pulang ke rumah," tambah penumpang tersebut.

Para ahli kesehatan sedang mendalami keterkaitan antara rute perjalanan kapal dari Argentina dengan munculnya virus ini. Daniel Bausch dari Geneva Graduate Institute menduga adanya keterlibatan varian Virus Andes yang lazim ditemukan di wilayah Amerika Selatan.

"Sangat signifikan bahwa kapal pesiar ini memulai perjalanannya di Argentina," ujar Daniel Bausch, Profesor Geneva Graduate Institute.

Pakar medis internasional menekankan bahwa virus Hanta biasanya menyebar lewat partikel kotoran hewan pengerat yang terhirup manusia. Tim gabungan dari WHO dan National Institute for Public Health (RIVM) Belanda masih melakukan pemeriksaan laboratorium mendalam untuk memastikan sumber utama wabah tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi