Tiga Penumpang Kapal Pesiar MV Hondius Tewas Akibat Hantavirus

Tiga Penumpang Kapal Pesiar MV Hondius Tewas Akibat Hantavirus

Tiga orang dilaporkan meninggal dunia akibat wabah hantavirus yang menyerang penumpang kapal pesiar MV Hondius saat berlayar dari Argentina menuju Tanjung Verde. Hingga Selasa, 5 Mei 2026, otoritas kesehatan masih menyelidiki mekanisme penularan virus yang biasanya berasal dari hewan pengerat tersebut.

Dua korban meninggal dunia merupakan pasangan suami istri asal Belanda, sementara satu korban lainnya adalah warga negara Jerman. Selain korban jiwa, seorang pria asal Inggris berusia 69 tahun kini berada dalam kondisi kritis namun stabil di sebuah rumah sakit di Johannesburg, Afrika Selatan, setelah teridentifikasi mengidap varian hantavirus.

Kematian pertama di atas kapal terjadi pada 11 April terhadap seorang pria Belanda berusia 70 tahun. Istri pria tersebut, yang ikut mendampingi proses pemulangan jenazah, kemudian jatuh sakit dan turut meninggal dunia sebelum kematian ketiga menimpa penumpang asal Jerman.

Peneliti kesehatan global dari Southampton University, Dr. Michael Head, menyoroti kejanggalan lokasi munculnya wabah ini karena hantavirus jarang ditemukan di lingkungan kapal pesiar.

"Ketika mendengar tentang wabah di kapal pesiar, kita cenderung memikirkan penyakit lain seperti Covid-19 atau norovirus. Hantavirus jarang dikaitkan dengan lingkungan semacam ini, dan penyebaran virus dari manusia ke manusia juga tidak biasa," sebut Dr. Michael Head.

Ia menambahkan bahwa mengingat asal kapal dari Amerika Selatan, varian Andes menjadi terduga utama penyebab infeksi yang terjadi.

"Mengingat kapal tersebut berasal dari Amerika Selatan, masuk akal jika varian virus Andes menjadi penyebab wabah ini. Sebelumnya pernah ada laporan mengenai penularan dari manusia ke manusia dari varian Andes, meskipun belum dapat dipastikan apakah itu yang terjadi dalam kasus ini," cetus Dr. Michael Head.

Dr. Liam Brierley dari MRC-University of Glasgow Centre for Virus Research menjelaskan bahwa secara umum hantavirus menular melalui partikel kotoran hewan pengerat yang terhirup manusia.

"Hantavirus ditularkan ka manusia ketika mereka menghirup virus dalam bentuk aerosol yang menguar dari kotoran hewan pengerat," sebut Dr. Liam Brierley.

Menurutnya, kemungkinan besar kasus di MV Hondius berasal dari satu titik paparan hewan pengerat yang sama di lingkungan kapal.

"Hantavirus tak menular dari orang ke orang kecuali dalam keadaan sangat langka dan hanya untuk satu jenis hantavirus spesifik yang disebut virus Andes, di bawah kontak jarak dekat sangat intensif, seperti antara pasangan seks atau dari pasien ke staf rumah sakit. Karena itu, sangat mungkin kasus ini akibat dari satu titik paparan yang sama terhadap hewan pengerat," imbuh Dr. Liam Brierley.

Direktur Regional WHO Eropa, Dr. Hans Henri Kluge, menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu merasa khawatir berlebihan terhadap risiko penularan luas di luar kapal tersebut.

"Infeksi Hantavirus tak umum terjadi dan biasanya dikaitkan paparan hewan pengerat terinfeksi. Walau parah pada beberapa kasus, virus ini tak mudah menular antarmanusia. Risiko terhadap masyarakat luas tetap rendah. Tidak perlu panik atau melakukan pembatasan perjalanan," cetus Dr. Hans Henri Kluge sebagaimana dilansir dari Mirror.

Ahli penyakit dari Cambridge University, Dr. Charlotte Hammer, mengemukakan dua kemungkinan masuknya virus ke dalam kapal, termasuk potensi hewan pengerat yang ikut berlayar.

"Bukan hal yang sepenuhnya aneh jika hewan pengerat menumpang di kapal, itu salah satu kemungkinannya. Orang yang sudah terinfeksi ketika kapal terakhir kali sandar di pelabuhan Argentina adalah kemungkinan lain, mengingat inkubasi bisa mencapai delapan minggu," ujar Dr. Charlotte Hammer.

Pakar penyakit menular dari University of East Anglia, Prof. Paul Hunter, menyatakan bahwa saat ini masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan pasti mengenai sumber penularan.

"Ada beberapa dugaan penyebaran dari manusia ke manusia dapat terjadi tapi masih belum ada kesepakatan dan bukti belum terkonfirmasi. Jika pun penyebaran manusia ke manusia terjadi, itu sangat langka. Terlalu dini berspekulasi mengenai bagaimana korban bisa terinfeksi, tapi sangat kecil kemungkinan wabah ini menyebabkan peningkatan risiko di Inggris atau di tempat lain di Eropa," ujar Prof. Paul Hunter.

Artikel terkait

Rekomendasi