Fenomena keluhan kulit sensitif di tengah masyarakat kini semakin meningkat. Kondisi ini dipicu oleh kombinasi antara memburuknya polusi udara serta kebiasaan menggunakan produk perawatan kulit secara berlebihan, seperti dikutip dari Suara.
Derasnya arus informasi di media sosial turut mengubah gaya hidup masyarakat saat ini. President Director PT Regenesis, Emmy Noviawati, menjelaskan bahwa masyarakat sekarang lebih mengutamakan kualitas kulit daripada sekadar terlihat awet muda.
“Skin quality kulit makin mudah sensitif, dari maraknya media sosial jadi pemicu, kulit sensitif dari lifestyle,” kata Emmy saat konferensi pers workshop ISISPHARMA Dermfluencer Movement: Influence with Impact di Jakarta, Sabtu (24/6/2026).
Lonjakan kasus ini sejalan dengan temuan berbagai riset internasional. Sebuah studi meta-analisis dalam Journal of the European Academy of Dermatology and Venereology mencatat prevalensi global sensitive skin syndrome (SSS) telah mencapai 71 persen dari 51.783 responden di 18 negara.
Laporan lain dalam jurnal Frontiers in Medicine menunjukkan sekitar 60 hingga 70 persen perempuan dan 50 hingga 60 persen laki-laki di dunia mengalami tingkat sensitivitas kulit tertentu. Kondisi ini pun menjadi kian umum secara global.
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, dr. Hafiza Fikri, Sp.DVE, FINSDV, PGC, memaparkan bahwa cuaca ekstrem di Indonesia sebagai negara ekuator memengaruhi pertambahan dampak sinar UV dan polusi.
Namun, faktor yang dinilai lebih signifikan adalah tindakan over treatment tanpa pengawasan medis.
“Sekarang kenyataannya banyak pasien di media sosial ikut tren skincare. Sudah pakai exfoliate, bermacam serum, dan edukasinya setengah-setengah sehingga akhirnya self-harm untuk kulit,” ujarnya.
Penggunaan bahan aktif seperti AHA, BHA, hingga DNA salmon kerap dipaksakan tanpa melihat kondisi awal kulit, termasuk pada pemilik kulit yang dasarnya sudah sensitif atau memiliki riwayat atopik.
“Pasien yang tadinya memang punya kulit sensitif atau atopik malah memaksa pakai exfoliate karena sedang tren. Belum tentu sesuai dengan kondisi kulitnya,” kata dr. Hafiza.
Keadaan ini kian diperparah oleh menjamurnya klinik kecantikan yang tidak selalu ditangani oleh tenaga profesional kompeten, sehingga merusak lapisan pelindung kulit atau skin barrier pasien.
Guna mengatasi salah kaprah akibat tren viral tersebut, edukasi publik digalakkan melalui forum seperti ISISPHARMA Dermfluencer Movement pada 14 Mei 2026 yang mengombinasikan keahlian dokter medis dan strategi digital.
“Kita harus bersama-sama mempertahankan produk berkualitas, mengedukasi, dan bertanggung jawab terhadap produk yang ditawarkan,” ujar Emmy.
Secara medis, kulit sensitif ditandai dengan respons berlebihan terhadap rangsangan normal, berupa rasa perih, panas, gatal, kencang, hingga kemerahan akibat gangguan fungsi skin barrier dan sensitivitas saraf.
Faktor lingkungan urban seperti polusi udara meningkatkan stres oksidatif yang memperlemah lapisan pelindung kulit, sehingga memicu iritasi lebih mudah terjadi.
Oleh karena itu, dr. Hafiza mengimbau masyarakat untuk memahami kondisi kulit masing-masing sebelum mengaplikasikan bahan aktif tertentu.
“Tidak semua yang viral cocok dipakai semua orang. Kulit sensitif itu harus diperlakukan lebih hati-hati,” kata dr. Hafiza.