UliMus Rambah Pasar Ekspor Lewat Inovasi Bawang Goreng Camilan

UliMus Rambah Pasar Ekspor Lewat Inovasi Bawang Goreng Camilan

Romauli Sri Astuti Sitoris (40) sukses mengembangkan usaha bawang goreng crispy UliMus dari inovasi camilan rumahan hingga menembus pasar internasional. Produk kuliner asal Bogor ini telah menjangkau konsumen di Jepang dan Singapura berkat pemanfaatan platform pemasaran digital serta pendampingan usaha.

Dilansir dari Detik Finance, usaha yang dirintis sejak tahun 2022 ini bermula dari upaya Romauli dalam mengolah bawang goreng agar disukai anaknya. Inovasi tersebut kemudian berkembang menjadi peluang bisnis saat produknya mulai diminati oleh rekan-rekan anaknya di pondok pesantren wilayah Parung pada awal 2020.

Romauli menceritakan awal mula ketertarikan pasar terhadap produk buatannya yang kini memiliki berbagai varian rasa.

"Alhamdulillah anak jadi suka. Tiap bulan saya ke pesantren bawa bawang goreng rasa barberque rasa balado. Teman-temannya juga pada suka, jadi pada beli," ceritanya kepada detikcom di Rumah BUMN BRI belum lama ini.

Melihat tingginya permintaan, ia memutuskan untuk menitipkan stok produk lebih banyak kepada sang anak setiap jadwal kunjungan rutin ke pesantren.

"Setiap bulan saya ke situ, ngunjungin anak, dapat cuan. Karena anaknya ikut jualin juga di situ," terangnya.

Keseriusan menekuni bisnis muncul setelah usaha sang suami terdampak pandemi. Dengan modal awal di bawah Rp500 ribu, Romauli fokus membangun legalitas usaha dengan nama UliMus yang merupakan gabungan namanya dan suami, Mustofa.

"Tahun 2020 suami saya usahanya bangkrut. (Untuk mencukupi kebutuhan ekonomi sehari-hari) dia menyarankan, jual bawang goreng aja, kan banyak yang suka. Akhirnya kami putuskan untuk serius berjualan," kata Uli.

Meski berlatar belakang pendidikan keperawatan, Romauli mulai aktif mengikuti pelatihan di Rumah BUMN BRI pada 2023 untuk memperdalam strategi pemasaran digital dan pengelolaan keuangan.

"Waktu itu pertama kali saya ke Rumah BUMN BRI diajak teman, katanya ada pelatihan pemasaran digital. Saya ikut," kenangnya.

Melalui pelatihan tersebut, ia menyadari pentingnya kehadiran media sosial dan ekosistem digital untuk menjamin keberlanjutan bisnis di masa depan.

"Banyak perubahan yang harus saya ikutin ternyata, terutama digital, pentingnya media sosial untuk jualan," kata Uli.

Setelah mengoptimalkan WhatsApp Business dan e-commerce, arah bisnis UliMus menjadi lebih terukur dengan sistem pencatatan yang lebih rapi.

"Jadi setelah ikut pelatihan di Rumah BUMN BRI itu saya jadi tau, apa itu marketing, apa itu pencatatan keuangan, apa itu go digital, kelihatan arahnya," jelasnya.

Dampak pendampingan terlihat pada kenaikan omzet bulanan yang kini mencapai Rp7 juta hingga Rp10 juta dari sebelumnya hanya ratusan ribu rupiah. Kapasitas produksi saat ini berada di angka 100-300 kilogram per bulan dengan jangkauan pengiriman hingga Kalimantan dan Papua.

"Meningkatnya nggak langsung 'buk' gitu, tapi slowly but surely. Perlahan tapi pasti ada peningkatan dari dulu," ungkapnya.

Ke depan, Romauli menargetkan kapasitas produksi mencapai satu ton per bulan dengan proyeksi omzet yang jauh lebih besar.

"Target sebagai UMKM tentu bisnisnya berkembang konsisten. Mimpi saya omzetnya bisa meningkat jadi Rp 25-100 juta per bulan," harapnya.

Produk UliMus kini telah mengantongi sertifikasi Halal, izin BPOM, serta hasil uji laboratorium yang memastikan daya simpan produk hingga lebih dari 12 bulan. Hal ini memungkinkan produk masuk ke ritel modern seperti Sarinah dan Supermarket Hero.

Romauli mengungkapkan kebanggaannya saat konsumen dari luar negeri tetap memesan produknya meski terkendala biaya kirim yang tinggi.

"Pembeli terjauh itu dari diaspora di Jepang. Meski ongkos kirimnya mencapai Rp 450 ribu untuk satu kilogram bawang, mereka tetap pesan. Itu jadi kebanggaan tersendiri bagi saya," tuturnya.

Ia menganggap berbagai pelatihan yang diterimanya merupakan kesempatan berharga untuk mentransformasi pola pikir pelaku usaha kecil.

"Rumah BUMN BRI telah menjadi wadah luar biasa bagi saya untuk 'kuliah' lagi, mengubah pola pikir, and memberikan dukungan nyata agar UMKM seperti saya bisa naik kelas," jelasnya.

Koordinator Rumah BUMN BRI, Jajang Rohmana, menegaskan komitmen pihaknya dalam memfasilitasi legalitas dan pembinaan gratis bagi pelaku usaha lokal.

"Program kami bukan hanya sebatas pelatihan, tetapi ada juga program-program lain yang memfasilitasi perkembangan UMKM, salah satunya pengurusan legalitas. Karena permasalahan UMKM itu banyak dan bermacam-macam, jadi program-program di Rumah BUMN dirancang untuk melengkapi semua kebutuhan tersebut," jelasnya.

Sistem pembinaan dimulai dengan pemetaan melalui Link UMKM untuk menentukan aspek prioritas yang perlu ditingkatkan dari setiap peserta.

"Kami akan mengarahkan mereka untuk fokus mengikuti pelatihan pada 3 aspek terendah tersebut. Setelah itu, kami menyiapkan program pelatihan dengan mengundang narasumber yang ahli expert di bidangnya," terangnya.

Saat ini, terdapat sekitar 11.000 UMKM di bawah naungan BRI KC S Parman dengan 6.000 di antaranya aktif mengikuti pendampingan berjenjang.

"Tingkatannya terdiri dari Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global. Sebenarnya, kelas Go Digital itu ditujukan untuk mendorong UMKM agar siap menguasai pasar global. Namun, karena tidak semua jenis produk bisa diekspor ke luar negeri, fokus utama kami saat ini adalah mengoptimalkan proses digitalisasi," jelasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi