UMKM Indonesia Hadapi Tantangan Besar Tembus Pasar Ekspor Internasional

UMKM Indonesia Hadapi Tantangan Besar Tembus Pasar Ekspor Internasional

Banyak pelaku UMKM di Indonesia masih menghadapi hambatan besar untuk berkembang secara berkelanjutan dan menembus pasar internasional di tengah persaingan industri yang semakin kompetitif. Berdasarkan data yang dikutip dari Suara, jumlah pelaku bisnis lokal yang berhasil melakukan ekspor ke luar negeri hingga saat ini masih sangat terbatas.

Sistem Informasi Data Tunggal UMKM (SIDT-UMKM) mencatat jumlah UMKM di Indonesia mencapai 30,19 juta pada Oktober 2025. Namun, dari total tersebut, baru ada 609 UMKM atau sekitar 0,0020 persen saja yang tercatat mampu menembus pasar ekspor hingga Juni 2025.

Data tersebut menjadi cerminan nyata mengenai sulitnya pelaku usaha domestik untuk tumbuh dan bersaing di ranah global. Meski demikian, CEO Sanga Sanga, Riva Effrianti, menilai pelaku bisnis tanah air tidak perlu berkecil hati karena banyak produk lokal yang sebenarnya memiliki kualitas mumpuni.

Riva Effrianti menjelaskan bahwa kelemahan utama yang membuat produk lokal belum mampu bersaing meliputi kendala aspek branding, legalitas, distribusi, serta strategi dalam membangun kepercayaan pasar. Sebagai figur yang berpengalaman dalam transformasi brand dan pengembangan pasar internasional untuk produk herbal serta wellness, ia menyoroti pentingnya standar bisnis yang dapat diterima pasar global.

“Produk lokal Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar. Namun untuk dapat bersaing hingga pasar internasional, UMKM perlu membangun kualitas, legalitas, inovasi, dan konsistensi secara serius,” ujar Riva Effrianti.

Keberhasilan sebuah merek untuk berkembang di pasar kosmetik atau kesehatan tidak dapat terjadi secara instan melainkan melalui proses yang panjang. Proses tersebut dimulai dari penguatan identitas brand, modernisasi sistem bisnis, pengembangan produk, hingga edukasi pasar secara konsisten.

Langkah transformasi ini telah diterapkan oleh Riva dalam memimpin Sanga Sanga melalui strategi repositioning brand agar tetap relevan dengan kebutuhan konsumen saat ini. Pengembangan produk tidak lagi sekadar berfokus pada ranah tradisional, melainkan diarahkan ke sektor wellness, beauty, relaxation, dan lifestyle yang memiliki peluang pertumbuhan tinggi.

“Jika memang diharuskan, maka kita perlu untuk melakukan transformasi bisnis, seperti mulai dari repositioning brand sampai memperluas segmen produk,” jelasnya.

Akses Distribusi dan Urgensi Legalitas Internasional

Penguatan jalur distribusi menjadi faktor krusial berikutnya agar produk lokal dapat menjangkau konsumen dengan lebih mudah. Pemanfaatan marketplace, retail modern, jaringan farmasi, komunitas, hingga kampanye digital dinilai menjadi instrumen efektif untuk memperluas awareness dan kepercayaan pasar.

Di sisi lain, pemenuhan legalitas produk menjadi aspek yang sering kali diabaikan oleh pelaku UMKM, padahal hal ini merupakan syarat utama untuk masuk ke ceruk pasar yang lebih luas. Pengurusan izin BPOM, sertifikasi halal, hingga Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) menjadi investasi penting demi keberlanjutan bisnis jangka panjang.

Demi menembus pasar Eropa yang ketat, Riva bahkan mengurus legalitas internasional berupa Cosmetic Product Notification Portal (CPNP) Eropa untuk brand Sanga Sanga. Langkah ini mempertegas bahwa membangun brand lokal harus berorientasi pada kepercayaan jangka panjang konsumen.

“Kami percaya produk herbal Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang hingga pasar global selama dibangun dengan kualitas, legalitas, inovasi, dan konsistensi yang kuat. Perjalanan membangun brand lokal membutuhkan proses panjang, termasuk edukasi pasar dan menjaga kepercayaan masyarakat,” lanjutnya.

Melalui konsistensi tersebut, Sanga Sanga berhasil memperluas jangkauan pasar hingga ke kawasan Asia dan Eropa. Merek ini juga meraih berbagai pencapaian, termasuk predikat Superbrands Indonesia 2026 untuk kategori produk herbal, penghargaan Rekor MURI 2024, serta menjadi delegasi Indonesia dalam forum WIPO General Assembly 2025 di Jenewa, Swiss.

Artikel terkait

Rekomendasi