Slamet, seorang mantan karyawan perusahaan mebel di Semarang, berhasil mentransformasi usaha wingko babat dari sekadar sampingan menjadi bisnis skala ekspor pada Kamis (7/5/2026). Perjalanan usaha yang dimulai sejak 2010 ini berkembang pesat setelah mendapatkan suntikan permodalan perbankan.
Keberhasilan usaha ini dilansir dari Money bermula dari rasa jenuh Slamet saat bekerja di industri mebel pada 2014 silam. Keputusannya untuk fokus pada produksi penganan tradisional khas Semarang ini membawa perubahan signifikan terhadap kapasitas produksi dan jangkauan pasar yang lebih luas.
"Tahun 2014 kami fokus, kalau tadinya itu kan istilahnya samben-samben (sambilan). Setiap pagi jualan, terus siangnya masuk kantor," kata Slamet ketika ditemui di rumah produksin, Kamis (7/5/2026).
Slamet menjelaskan bahwa ia mulai mempelajari proses produksi secara mandiri dari seorang pedagang asal Lamongan selama kurang dari satu tahun. Awalnya, produksi hanya dilakukan dalam volume kecil sebelum akhirnya berkembang secara bertahap.
"Beli bahan baku dari 2 kilo, 3 kilo, begitu. Jadi terus mengembang-mengembang," imbuh Slamet.
Peningkatan kapasitas produksi terjadi saat Slamet menerima pinjaman awal Rp 5 juta untuk membeli mesin parut kelapa sendiri. Kini, ia mengoperasikan 12 tungku dari enam unit kompor guna memenuhi target harian dengan omzet sekitar Rp 300.000 hingga Rp 500.000.
"Dulu kelapa kan kami ambil dari pasar. Sampai sekarang itu bisa parut sendiri. Dengan modal 5 juta itu bisa beli mesin parut. Tadinya tidak punya, akhirnya sampai bisa terpunyai. Sekarang kelapanya bisa dibeli sendiri," tutur Slamet.
Meskipun menghadapi tantangan kenaikan harga bahan baku dan plastik setelah pandemi, Slamet tetap mempertahankan harga jual Rp 30.000 per loyang. Produknya yang tanpa pengawet bahkan telah mencapai pasar internasional tanpa adanya komplain dari konsumen.
"Sekarang akui aku emang ini agak menurun. Kena harga plastik juga, jadi tepungnya juga naik. Harga 30.000 (per loyang) ini karena kemarin kelapa sempat diekspor, jadi kelapa mahal banget waktu itu. Ini sudah lumayan agak turun," jelas Slamet.
Slamet menambahkan bahwa produknya sanggup bertahan hingga empat hari di suhu ruangan sehingga aman dibawa sebagai buah tangan ke luar pulau hingga luar negeri. Ia mengelola seluruh proses produksi harian bersama istrinya, Novi.
"Bisa keluar kota, keluar Jawa bisa. Keluar Indonesia juga bisa. Pernah ke Palestina pun dia dulu, dibawa. tidak ada komplain, berarti ya baik-baik saja," kata Slamet.
Branch Manager Askrindo Semarang, Gami Aji L., mencatat pertumbuhan positif pada sektor penjaminan kredit usaha rakyat di wilayahnya. Hingga April 2026, total penjaminan KUR mencapai Rp 1,3 triliun bagi 24.000 debitor.
"Total premi yang kami kumpulkan selama 2026 sampai dengan April itu Rp 40,2 miliar. Total klaim gabungan Rp 10,7 miliar," ucap Gami Aji L., Branch Manager Askrindo Semarang.
Pencapaian premi gabungan kantor cabang Semarang mengalami kenaikan sebesar 10 persen dibandingkan tahun lalu. Gami menambahkan bahwa laba gabungan juga tercatat tumbuh sebesar 5 persen secara tahunan.
Regional Office Head III Askrindo Semarang, Henry Sabar, menuturkan bahwa kenaikan premi di wilayah Jawa Tengah dan DIY didorong oleh sektor perdagangan dan nelayan. Kenaikan tersebut mencapai 9 persen pada kuartal I-2026.
"Cakupan kita malah meningkat 9 persen, kalau dari Jateng dan DIY itu memang kebanyakan di pesisir, banyak perdagangan, kemudian juga nelayan di pesisir," ucap Henry Sabar, Regional Office Head III Askrindo Semarang.
Laba regional yang dibukukan pada periode yang sama mencapai Rp 66 miliar. Henry memandang pertumbuhan ini sebagai tanda kondisi ekonomi yang mulai membaik.
"Sudah mulai membaik kondisi," tutup Henry Sabar.