Virus Hanta Tewaskan Tiga Penumpang Kapal Pesiar MV Hondius

Virus Hanta Tewaskan Tiga Penumpang Kapal Pesiar MV Hondius

Tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi virus hanta saat berlayar di Samudra Atlantik menuju Kepulauan Tanjung Verde pada Minggu, 3 Mei 2026. Tragedi ini memicu kewaspadaan global karena gejala awal virus yang dibawa hewan pengerat tersebut sering kali menyerupai flu ringan namun dapat berakibat fatal.

Kematian tragis menimpa pasangan suami istri asal Belanda berusia 69 dan 70 tahun serta satu penumpang lainnya setelah kapal berangkat dari Argentina. Berdasarkan laporan The Guardian, seorang pria asal Inggris juga terkonfirmasi positif dan saat ini tengah menjalani perawatan intensif di salah satu rumah sakit di Afrika Selatan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini memberikan perhatian serius terhadap insiden tersebut dengan melakukan pelacakan sumber wabah melalui pengurutan genetik. Tim ahli sedang berupaya memastikan bagaimana virus tersebut bisa menyebar di dalam lingkungan kapal pesiar kutub tersebut.

"Penyelidikan mendalam sedang dilakukan, termasuk pengujian laboratorium lebih lanjut. Perawatan medis dan dukungan segera sedang diberikan kepada para penumpang dan kru. Deteksi dini sangat menentukan peluang keselamatan pasien," tulis pernyataan resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Lembaga kesehatan dunia tersebut juga mengingatkan publik bahwa meskipun jarang terjadi, virus hanta memiliki potensi penularan antarmanusia dalam kondisi tertentu. Fokus utama saat ini adalah memberikan bantuan medis cepat bagi seluruh awak dan penumpang yang terdampak.

Catatan Japan Times pada 4 Mei 2026 menyebutkan virus hanta pertama kali ditemukan di Korea Selatan pada dekade 1970-an. Infeksi pada manusia umumnya terjadi melalui kontak dengan sisa kotoran atau air liur tikus, terutama jika partikel keringnya terhirup saat membersihkan area yang terkontaminasi.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyoroti tingkat bahaya penyakit ini yang memiliki angka kematian mencapai 40 persen. Pasien biasanya mengalami fase kritis berupa sesak napas akut akibat penumpukan cairan di paru-paru sekitar 4 hingga 10 hari setelah gejala awal muncul.

Karena belum adanya obat spesifik, para ahli menyarankan pembersihan area sarang tikus dilakukan menggunakan disinfektan terlebih dahulu untuk mencegah virus terbang ke udara. Langkah antisipasi ini dianggap krusial untuk menekan risiko infeksi di lingkungan pemukiman maupun fasilitas publik.

Artikel terkait

Rekomendasi