Lonjakan kasus suspek Ebola strain Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) kini mencapai 543 orang dengan laporan 136 pasien meninggal dunia, di mana jenis virus ini belum memiliki terapi dan vaksin resmi, seperti dilansir dari Detik Health pada Selasa (20/5).
Menteri Kesehatan RD Kongo Roger Kamba mengonfirmasi bahwa baru 32 kasus yang teridentifikasi positif strain tersebut dan investigasi mendalam masih berjalan guna memastikan asal-usul penyebaran wabah yang belum diketahui secara pasti.
Otoritas kesehatan internasional juga menghadapi kendala besar karena belum berhasil melacak kasus pertama atau pasien nol dari penularan ini di lapangan.
"Yang kami ketahui saat ini adalah pada 5 Mei ada seseorang yang meninggal di Bunia," ujarnya, seraya menambahkan bahwa jenazah kemudian dibawa ke Mongbwalu, tempat paparan saat prosesi pemakaman kemungkinan ikut memicu penularan.
Pernyataan mengenai ketidakjelasan asal wabah ini didukung oleh pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Adelheid Marschang Ancia yang berbasis di Bunia, ibu kota provinsi Ituri.
Selain masalah pelacakan komunal, Direktur Jenderal Africa Centers for Disease Control and Prevention (Africa CDC) Jean Kaseya menyampaikan bahwa pelacakan indeks kasus bahkan belum menemui titik terang sejak awal kemunculannya.
"Wabah ini dimulai pada April. Sampai sekarang kami belum mengetahui kasus indeksnya. Itu berarti kami belum tahu seberapa besar skala wabah ini," kata Kaseya pada 16 Mei, dikutip dari Xinhua, Selasa (20/5).
Hasil analisis urutan genetik memperlihatkan bahwa virus yang aktif saat ini bersumber dari kawasan hutan, yang menandakan adanya kontaminasi baru dari alam liar dan bukan hasil dari mutasi rantai virus lama.
Kondisi di lapangan semakin rumit akibat adanya resistensi sosial, di mana sejumlah kelompok masyarakat sempat mengaitkan penularan penyakit ini dengan fenomena mistis atau kutukan.
Menteri Kesehatan RD Kongo Roger Kamba mengakui hambatan tersebut membuat pelaporan kasus menjadi terlambat sehingga wilayah penularan menjadi semakin melebar ke area lain.
Kendati demikian, misinformasi di tengah warga mulai teratasi setelah pemerintah menetapkan status wabah secara resmi dan menggencarkan edukasi berkala kepada publik.
Secara historis, strain Bundibugyo tergolong langka karena baru pertama kali ditemukan di Uganda pada 2007 dan sempat memicu wabah di wilayah Isiro, RD Kongo, pada 2012.
Direktur Jenderal National Institute of Biomedical Research Jean-Jacques Muyembe memaparkan bahwa pemetaan genom terbaru menunjukkan virus saat ini merupakan varian berbeda dari virus tahun 2007 dan 2012.
Untuk mengatasi ketiadaan vaksin khusus, Roger Kamba menekankan bahwa penanganan medis akan dipusatkan pada metode deteksi kilat, isolasi mandiri pasien, proteksi optimal bagi tenaga medis, serta standardisasi pemakaman yang aman.
Di sisi lain, kelompok penasihat teknis WHO menjadwalkan pertemuan khusus untuk mengevaluasi sejumlah kandidat vaksin potensial yang dapat digunakan secepatnya.
Adelheid Marschang Ancia mengungkapkan bahwa vaksin Ervebo yang sejatinya diperuntukkan bagi Ebola strain Zaire sedang dikaji sebagai opsi darurat, walau suplai barunya diprediksi baru siap dalam waktu dua bulan.
Sementara itu, pihak Africa CDC mengonfirmasi ada tiga kandidat vaksin yang sedang diteliti secara intensif demi membendung kecepatan transmisi lokal.
Penggunaan Ervebo diharapkan mampu memicu perlindungan silang terhadap strain Bundibugyo, namun kepastian efektivitasnya masih membutuhkan riset lanjutan yang lebih mendalam.
Jean-Jacques Muyembe menambahkan bahwa proses pengembangan klinis sejumlah kandidat vaksin memerlukan waktu yang tidak sebentar di laboratorium.
"Pada saat epidemi berakhir, mungkin kita baru menemukan vaksinnya," ujarnya.
Faktor sosiopolitis juga memperparah situasi karena epidemi ini merebak di wilayah yang sedang dilanda konflik bersenjata, krisis pengungsian massal, serta keterbatasan infrastruktur kesehatan.
Badan Pengungsi PBB mencatat sekitar 11 ribu pengungsi asal Sudan Selatan di Ituri memerlukan bantuan pencegahan, sementara 2.000 pengungsi Rwanda dan Burundi di Goma membutuhkan fasilitas sanitasi darurat.
Kasus aktif kini telah terdeteksi di kota Butembo dan Goma di Provinsi Kivu Utara, di mana Goma merupakan pusat ekonomi perbatasan vital yang sejak awal 2025 dikuasai kelompok pemberontak March 23 Movement (M23).
Juru bicara pemerintah Patrick Muyaya menerangkan bahwa pendudukan wilayah Goma oleh pemberontak mempersulit jalannya pengawasan epidemiologi, pelacakan kontak erat, hingga mobilisasi sampel ke laboratorium terbaik di kota tersebut.
Dampak regional mulai terlihat setelah Uganda mendeteksi dua kasus impor di Kampala yang mengakibatkan satu pasien meninggal dunia menurut laporan resmi WHO.
Situasi ini mendorong Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menetapkan status darurat kesehatan global atau Public Health Emergency of International Concern akibat laju penyebaran epidemi yang sangat masif.
Langkah taktis juga diambil oleh Africa CDC dengan mendeklarasikan status Public Health Emergency of Continental Security untuk mempercepat koordinasi logistik penanganan antarnegara.
Negara tetangga seperti Rwanda, Burundi, dan Tanzania langsung memperketat pemeriksaan di area perbatasan serta meningkatkan sistem kesiapsiagaan darurat nasional mereka.
Hingga kini, pemerintah Rwanda dilaporkan telah menghentikan sementara lalu lintas di rute utama penghubung Goma dan Gisenyi, serta hanya mengizinkan pelintasan bagi warga negara yang ingin kembali ke tanah air mereka.