Penyebaran wabah Ebola terbaru di wilayah timur Republik Demokratik Kongo telah mengakibatkan sedikitnya 88 orang meninggal dunia di Provinsi Ituri akibat penularan komunitas yang aktif. Berdasarkan laporan terkini yang dilansir dari Detik Health, lonjakan fatalitas ini memicu kekhawatiran peluasan wabah setelah satu kasus kematian terkonfirmasi di negara tetangga, Uganda.
Data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Afrika kini menunjukkan lonjakan menjadi 336 kasus suspek dan 13 kasus terkonfirmasi positif. Dari total kasus yang terbukti positif melalui pemeriksaan laboratorium tersebut, empat pasien di antaranya dilaporkan telah meninggal dunia.
Situasi di ibu kota Ituri, Bunia, kian mencekam seiring tingginya intensitas pemakaman warga setempat yang terjadi hampir setiap hari akibat penularan tersebut. Gejala klinis penyakit menular yang mematikan ini diketahui dapat menyebar secara cepat melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita.
"Setiap hari, orang-orang meninggal dan ini telah berlangsung selama sekitar seminggu. Dalam satu hari, kami menguburkan dua, tiga, atau bahkan lebih banyak orang," kata warga Bunia, Jean Marc Asimwe.
Kondisi di lapangan semakin diperparah oleh ketidaktahuan sebagian masyarakat mengenai karakteristik infeksi yang sedang merebak di lingkungan mereka.
"Saat ini, kami belum benar-benar tahu jenis penyakit apa ini," lanjutnya yang dikutip dari AP News.
Direktur Jenderal CDC Afrika, Dr Jean Kaseya, menjelaskan dalam konferensi pers daring pada Sabtu (16/5/2026) bahwa penularan awal terdeteksi di zona kesehatan Mongwalu. Mobilitas populasi yang tinggi di wilayah pertambangan tersebut memicu percepatan transmisi virus ke wilayah lain.
"Kasus-kasus tersebut kemudian menyebar ke Rwampara dan Bunia karena pasien mencari perawatan medis, sehingga memungkinkan penyebaran di tiga zona kesehatan," katanya dalam konferensi pers daring, Sabtu (16/5/2026).
Kendala pelacakan kontak erat dan penanganan medis di Provinsi Ituri juga dipengaruhi oleh faktor gangguan keamanan dari kelompok militan setempat.
"Secara signifikan mempersulit upaya penahanan dan pelacakan kontak," sambung Dr Kaseya.
Menteri Kesehatan Kongo, Samuel-Roger Kamba, mengonfirmasi bahwa hasil pengujian laboratorium mengidentifikasi keberadaan virus Ebola strain Bundibugyo yang tergolong langka. Kasus pertama dari wabah ke-17 di Kongo sejak 1976 ini diduga berawal dari seorang perawat yang wafat di Bunia pada 24 April.
Pemerintah Uganda sendiri telah mengonfirmasi satu kasus kematian impor dari Kongo di Rumah Sakit Muslim Kibuli, Kampala, pada 14 Mei. Kota Kampala kini memperketat skrining kesehatan, sementara Kenya mengantisipasi risiko masuknya virus dengan membentuk tim kesiapsiagaan di setiap pintu perbatasan.
"Saya benar-benar takut karena saya ingat menguburkan ayah saya tanpa melihat jenazahnya," kata warga Kampala, Ismail Kigongo, yang mengaku trauma setelah kehilangan ayahnya saat pandemi COVID-19.
Hambatan logistik dan konflik bersenjata menjadi tantangan besar mengingat Ituri berjarak 1.000 kilometer dari pusat pemerintahan di Kinshasa. Hingga kini, Institut Penelitian Biomedis Nasional Kongo baru memeriksa 13 sampel darah, dengan delapan sampel positif dan lima lainnya kekurangan volume.
Di tengah kondisi darurat ini, sebagian warga setempat mendesak adanya intervensi yang lebih masif dari otoritas kesehatan pusat untuk mengendalikan situasi hospitalisasi.
"Rekomendasi saya adalah agar pemerintah menanggapi masalah ini dengan serius dan mengambil alih pengelolaan rumah sakit sehingga masalah ini dapat dikendalikan," pungkasnya.