Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meningkatkan kewaspadaan tinggi setelah wabah virus Ebola varian Bundibugyo menyebar cepat di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan menjalar ke ibu kota Uganda pada Selasa (19/5/2026).
Kementerian Kesehatan DRC melaporkan 131 kematian terkait wabah ini, dengan jumlah kasus dugaan yang kini telah melampaui 500 orang.
Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa 30 kasus telah terkonfirmasi di Provinsi Ituri, wilayah timur laut DRC yang menjadi pusat penyebaran utama.
Kondisi di lapangan dipersulit oleh intensifikasi konflik bersenjata, pemotongan bantuan, serta tingkat gizi buruk akut yang melemahkan sistem imun masyarakat di pedesaan.
"deeply concerned about the scale and speed"
ujar Tedros, Direktur Jenderal WHO.Ia menambahkan bahwa pertempuran yang meningkat sejak akhir tahun 2025 memicu gelombang pengungsian baru bagi 100,000 orang.
"Conflict has intensified since late 2025, and fighting has escalated significantly over the past two months, resulting in civilian deaths,"
kata Tedros, Direktur Jenderal WHO.Tingginya mobilitas penduduk akibat konflik tersebut dinilai memperbesar risiko penyebaran virus ke wilayah lain.
"high levels of population movement"
lanjut Tedros, Direktur Jenderal WHO.Ia juga menegaskan bahwa faktor mobilitas dan situasi keamanan yang tidak kondusif menjadi kendala serius bagi tim medis.
"may “increase the risk of further spread.”"
tambah Tedros, Direktur Jenderal WHO.Penanganan medis saat ini belum didukung oleh vaksin khusus untuk virus strain Bundibugyo tersebut.
Pemerintah Amerika Serikat ikut merespons krisis ini setelah seorang warganya dinyatakan positif terkena Ebola di Kongo.
“a little tough to get to.”
kata Marco Rubio, Sekretaris Negara AS.Diplomat tersebut menjelaskan hambatan geografis yang dihadapi oleh tim bantuan internasional di wilayah konflik.
“It’s in a rural area, so it’s kind of confined in a hard to get to place in a war-torn country, unfortunately,”
Hingga saat ini, belum ada obat resmi yang disetujui, namun pengembangan terapi antibodi monoklonal terus diupayakan.
"most vulnerable"
kata Philippe Guiton, Direktur Nasional World Vision di DRC.Guiton menyoroti kelompok anak-anak sebagai pihak yang paling menderita akibat kombinasi konflik dan wabah.
“already heavily affected by conflict and where humanitarian assistance remains insufficient due to lack of resources.”
Kondisi kesehatan masyarakat di pedesaan Kongo timur kian memprihatinkan akibat keterbatasan fasilitas kesehatan.
“Ituri is already facing an alarming situation of acute malnutrition, which further weakens people’s immune systems, combined with extremely limited access to healthcare in remote areas.”
Keterlambatan deteksi awal kasus juga menuai kritik tajam dari para ahli epidemiologi dunia.
“I’ve been saying the most concerning thing to me has been how much we learned, how quickly we learned it,”
Spencer mengkhawatirkan angka kasus riil di lapangan jauh lebih besar daripada laporan resmi pemerintah.
“There’s no doubt that this is probably much worse than what we think right now. I suspect the true case total is much higher than what’s being reported.”
Merespons situasi tersebut, Washington menerapkan undang-undang kesehatan masyarakat untuk membatasi masuknya pelancong dari wilayah terdampak.
“broad travel bans can disrupt lives and economies.”
Lembaga tersebut menilai kebijakan pembatasan perjalanan yang agresif justru berpotensi merusak stabilitas ekonomi regional.
“who entered Uganda from the DRC.”
Pemerintah Uganda menegaskan bahwa dua kasus di Kampala merupakan warga Kongo dan belum ada transmisi lokal.
WHO mengonfirmasi bahwa kasus pertama bermula dari seorang tenaga medis yang menunjukkan gejala pada 24 April 2026 sebelum meninggal di Bunia.