Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi bahwa munculnya wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius bukan merupakan awal dari pandemi global baru karena pola penyebaran virus yang terbatas. Hingga Kamis (7/5/2026), otoritas kesehatan melaporkan tiga orang meninggal dunia dan lima kasus positif dari delapan pasien suspek yang terdeteksi di atas kapal tersebut.
Epidemiolog penyakit menular WHO, Maria van Kerkhove, menjelaskan bahwa karakteristik hantavirus sangat berbeda dengan virus pernapasan yang memicu pandemi sebelumnya. Ia menekankan bahwa risiko infeksi secara global tetap berada pada level rendah berdasarkan data transmisi saat ini.
"Ini bukan Covid, ini bukan influenza, cara penyebaran sangat, sangat berbeda," ujar Maria van Kerkhove.
Maria menambahkan bahwa protokol kesehatan tetap dijalankan secara ketat selama masa penanganan di kapal. Hal ini termasuk kewajiban penggunaan masker bagi seluruh orang di dalam MV Hondius untuk mencegah potensi penularan lokal.
"semua orang untuk memakai masker" kata Maria van Kerkhove.
Pihak medis yang menangani pasien dengan gejala infeksi juga diinstruksikan untuk meningkatkan standar keamanan operasional. Prosedur ini melibatkan penggunaan alat pelindung diri yang lebih komprehensif guna meminimalkan risiko bagi tenaga kesehatan.
"memakai perlengkapan pelindung diri dengan tingkat yang lebih tinggi" ujar Maria van Kerkhove.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Ghebreyesus, memberikan penilaian serupa mengenai dampak kesehatan publik dari insiden di kapal pesiar tersebut. Ia mengaitkan temuan awal kasus dengan aktivitas penumpang di wilayah Amerika Selatan sebelum naik ke kapal.
"menilai risiko terhadap kesehatan masyarakat sebagai rendah" ujar Tedros Ghebreyesus.
Tedros mengungkapkan bahwa dua pasien pertama yang terinfeksi sempat mengunjungi habitat tikus pembawa virus di Argentina, Chile, dan Uruguay. Aktivitas pengamatan burung di lokasi terpencil tersebut diduga menjadi titik awal paparan virus terhadap manusia.
"bepergian melalui Argentina, Chile, dan Uruguay dalam perjalanan mengamati burung yang mencakup kunjungan ke lokasi tempat spesies tikus yang diketahui membawa virus itu berada" kata Tedros Ghebreyesus.
WHO juga terus memantau laporan mengenai individu lain yang berpotensi memiliki riwayat kontak dengan penumpang terinfeksi. Mengingat masa inkubasi virus yang cukup panjang, otoritas kesehatan mengantisipasi kemungkinan munculnya laporan kasus tambahan dalam beberapa pekan mendatang.
"Mengingat masa inkubasi penyakit ini—yang bisa mencapai enam minggu—kemungkinan akan ada lebih banyak kasus yang dilaporkan" ujar Tedros Ghebreyesus.
Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) melalui Prof Robin May menyatakan bahwa proses pelacakan kontak sedang dilakukan secara masif lintas negara. Pelacakan ini diprioritaskan bagi 30 penumpang yang telah turun di Pulau St Helena pada 24 April lalu.
"upaya yang cukup besar" ujar Prof Robin May.
Tim ilmuwan berkomitmen untuk terus memantau perkembangan kesehatan para penumpang yang telah kembali ke negara masing-masing. Langkah antisipasi ini diprediksi akan memakan waktu yang cukup lama guna memastikan tidak ada penyebaran sekunder di tengah masyarakat.
"akan terus kami lakukan… untuk beberapa waktu" kata Prof Robin May.
Prof Robin May juga memberikan himbauan bagi penumpang asal Inggris untuk mematuhi protokol isolasi mandiri selama 45 hari setibanya di rumah. Namun, bagi masyarakat umum yang tidak memiliki keterkaitan dengan pelayaran tersebut, ancaman kesehatan dinilai tidak signifikan.
"risikonya benar-benar sangat kecil" ujar Prof Robin May.
Wakil Direktur infeksi epidemik UKHSA, Dr Meera Chand, menegaskan kembali bahwa pengawasan ketat dilakukan hanya untuk membatasi risiko penularan lebih lanjut. Ia meminta publik tidak panik karena risiko bagi masyarakat umum tetap sangat rendah.
"Penting untuk meyakinkan masyarakat bahwa risiko bagi publik secara umum tetap sangat rendah" kata Dr Meera Chand.
Otoritas kesehatan terus berupaya memetakan jalur kontak setiap individu yang pernah berada di MV Hondius. Fokus utama saat ini adalah memutus rantai penularan galur Andes yang diketahui dapat menular antarmanusia dalam kondisi kontak fisik yang sangat dekat.
"Kami melakukan pelacakan kontak terhadap siapa pun yang mungkin pernah berkontak dengan kapal atau kasus hantavirus untuk membatasi risiko penularan lebih lanjut" ujar Dr Meera Chand.