Wabah Virus Andes Serang Kapal Pesiar MV Hondius di Atlantik

Wabah Virus Andes Serang Kapal Pesiar MV Hondius di Atlantik

Tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius dilaporkan tewas akibat wabah hantavirus galur virus Andes (ANDV) setelah kapal tersebut bertolak dari Argentina pada April 2026. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi total delapan kasus, terdiri dari tiga kasus terkonfirmasi dan lima kasus suspek, yang memicu pelacakan kontak internasional di berbagai negara.

Hingga Kamis, 7 Mei 2026, kapal tersebut sedang menuju Kepulauan Kanari, Spanyol, setelah sempat tertahan di Tanjung Verde untuk proses evakuasi medis. Otoritas kesehatan Argentina tengah menyelidiki asal penularan karena negara tersebut memiliki insidensi hantavirus tertinggi di Amerika Latin, dengan laporan 101 infeksi sejak Juni 2025.

Kekhawatiran meningkat terkait 23 penumpang yang telah turun di Pulau Saint Helena pada 21 April 2026 dan kembali ke negara asal mereka tanpa pemantauan awal. Seorang penumpang asal Spanyol yang masih berada di kapal memberikan kesaksian kepada El País mengenai situasi rekan-rekannya tersebut.

"Twenty‑three people got off in Saint Helena. There are 23 people wandering around there, and until three days ago, no one had contacted them," ujar saksi anonim tersebut.

Penumpang itu menambahkan bahwa para individu tersebut telah kembali ke berbagai penjuru dunia mulai dari Amerika Utara hingga Belanda. Salah satu dari mereka bahkan dinyatakan positif hantavirus saat tiba di Swiss.

"The Australian went back to Australia, the one from Taiwan to Taiwan, the Americans to all corners of North America. The Englishman to England, the Dutch to their homes… I don’t remember the rest, but no Spaniards," kata penumpang tersebut.

Kondisi kesehatan salah satu rekan mereka yang turun lebih awal juga sempat dikonfirmasi melalui sambungan telepon. Pasien tersebut saat ini menjalani perawatan di rumah sakit Zurich setelah merespons surel dari operator kapal.

"He wasn’t feeling well, went to the hospital, and this morning tested positive," papar saksi tersebut.

WHO menyadari adanya keterlambatan dalam menghubungi para penumpang yang turun di Saint Helena. Hal ini menjadi krusial mengingat masa inkubasi virus yang mencapai satu hingga delapan minggu.

"We were in touch with them and kept asking ourselves, ‘When are they going to tell them something?’ Some people weren’t contacted until yesterday," ungkap penumpang anonim itu.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, memberikan pernyataan resmi melalui platform X mengenai koordinasi dengan operator kapal Oceanwide Expeditions. Ia menekankan bahwa tindak lanjut medis telah diinisiasi bagi semua pihak yang terdampak.

"WHO continues to work with the ship’s operators to closely monitor the health of passengers and crew, working with countries to support appropriate medical follow-up and evacuation where needed," tulis Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.

Tedros juga menyebutkan respons cepat salah satu pasien di Swiss yang membantu identifikasi kasus setelah mendapatkan informasi dari pihak kapal. Ia mengimbau pemantauan ketat terus dilakukan.

"The patient had responded to an email from the ship's operator informing the passengers of the health event," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.

Meskipun situasi terkendali, WHO menyatakan risiko kesehatan publik secara keseluruhan masih dalam kategori rendah. Upaya kolaboratif tetap diprioritaskan untuk mencegah penyebaran lebih luas.

"Monitoring and follow-up for passengers onboard and for those who have already disembarked has been initiated in collaboration with the ship’s operators and national health authorities," tambah Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.

Ghebreyesus menutup pernyataannya dengan memberikan penilaian sementara terhadap ancaman wabah ini. Fokus utama saat ini adalah memastikan keselamatan 146 orang yang masih berada di atas kapal.

"At this stage, the overall public health risk remains low," pungkas Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.

Dr Maria Van Kerkhove dari WHO menjelaskan kepada BBC bahwa cara penularan virus Andes sangat spesifik dan berbeda dari virus pernapasan biasa. Virus ini diketahui sebagai satu-satunya strain hantavirus yang dapat menular antarmanusia melalui kontak fisik yang erat.

"The way hantavirus is transmitted is very different than COVID and flu," jelas Dr Maria Van Kerkhove, Pejabat WHO.

Ia menekankan bahwa risiko penularan tidak terjadi pada kontak biasa yang berjarak jauh. Penekanan diberikan pada pentingnya menghindari paparan cairan tubuh penderita.

"We're not talking about casual contact from very far away from one another, but really physical contact," tutur Dr Maria Van Kerkhove, Pejabat WHO.

Pakar penyakit menular Argentina, Hugo Pizzi, mengaitkan peningkatan kasus hantavirus dengan perubahan iklim yang membuat wilayah tersebut menjadi lebih tropis. Hal ini memicu ledakan populasi tikus pembawa virus di habitat baru.

"Argentina has become more tropical because of climate change, and that has brought disruptions, like dengue and yellow fever, but also new tropical plants that produce seeds for mice to proliferate," urai Hugo Pizzi, Spesialis Penyakit Menular Argentina.

Pizzi menegaskan bahwa perubahan ekosistem ini secara langsung memengaruhi persebaran penyakit yang sebelumnya jarang terjadi di area tertentu. Tren ini diperkirakan akan terus meningkat seiring waktu.

"There is no doubt that as time goes by, the hantavirus is spreading more and more," cetus Hugo Pizzi, Spesialis Penyakit Menular Argentina.

Presiden Kepulauan Kanari, Fernando Clavijo, menyatakan penolakan keras terhadap keputusan Pemerintah Spanyol yang mengizinkan kapal tersebut bersandar di Tenerife. Ia menuntut pertemuan mendesak dengan Perdana Menteri Spanyol karena minimnya kriteria teknis dalam keputusan tersebut.

"I cannot allow [the boat] to enter the Canaries," tegas Fernando Clavijo, Presiden Kepulauan Kanari.

Clavijo merasa pemerintah daerah tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan yang berisiko bagi warga lokal. Ia mengklaim tidak menerima informasi medis yang cukup untuk menjamin keamanan wilayahnya.

"This decision is not based on any technical criteria and nor have we been given enough information," keluh Fernando Clavijo, Presiden Kepulauan Kanari.

Artikel terkait

Rekomendasi