Wabah Virus Tikus di Kapal Pesiar MV Hondius Tewaskan Tiga Orang

Wabah Virus Tikus di Kapal Pesiar MV Hondius Tewaskan Tiga Orang

Tiga orang dilaporkan meninggal dunia akibat wabah virus tikus yang menyerang penumpang kapal pesiar MV Hondius dalam perjalanan dari Argentina menuju Cape Verde. Dilansir dari Detik iNET, satu korban pertama mengembuskan napas terakhir di atas kapal pada 11 April sementara dua korban lainnya menyusul dalam rangkaian insiden medis terpisah.

Total 149 penumpang dan awak berada di dalam kapal tersebut saat infeksi mulai terdeteksi. Selain korban jiwa yang melibatkan pasangan suami istri dan seorang warga Jerman, seorang pria asal Inggris berusia 69 tahun kini dalam kondisi kritis namun stabil di sebuah rumah sakit di Johannesburg, Afrika Selatan.

Hasil identifikasi medis menemukan varian hantavirus pada tubuh pasien yang dievakuasi tersebut. Investigasi saat ini difokuskan pada bagaimana para korban terpapar, mengingat hantavirus biasanya ditularkan melalui hewan pengerat dan jarang terjadi antarmanusia.

Peneliti kesehatan global dari Southampton University memberikan pandangan terkait lokasi asal kapal yang menjadi faktor krusial dalam analisis varian virus tersebut.

"Ketika mendengar tentang wabah di kapal pesiar, kita cenderung memikirkan penyakit lain seperti Covid-19 atau norovirus. Hantavirus jarang dikaitkan dengan lingkungan semacam ini, dan penyebaran virus dari manusia ke manusia juga tidak biasa," sebut Dr. Michael Head, peneliti kesehatan global Southampton University.

Dr. Head menambahkan bahwa varian Andes menjadi kecurigaan utama dalam kasus ini karena riwayat perjalanan kapal tersebut.

"Mengingat kapal tersebut berasal dari Amerika Selatan, masuk akal jika varian virus Andes menjadi penyebab wabah ini. Sebelumnya pernah ada laporan mengenai penularan dari manusia ke manusia dari varian Andes, meskipun belum dapat dipastikan apakah itu yang terjadi dalam kasus ini," cetusnya.

Hantavirus umumnya masuk ke tubuh manusia lewat partikel kotoran tikus yang mengering dan terhirup. Mekanisme penularan ini dijelaskan lebih lanjut oleh ahli dari universitas di Skotlandia.

"Hantavirus ditularkan ka manusia ketika mereka menghirup virus dalam bentuk aerosol yang menguar dari kotoran hewan pengerat," sebut Dr. Liam Brierley, dari MRC-University of Glasgow Centre for Virus Research.

Meskipun ada risiko penularan, Dr. Brierley menekankan bahwa kejadian tersebut memerlukan kondisi yang sangat spesifik dan intens.

"Hantavirus tak menular dari orang ke orang kecuali dalam keadaan sangat langka dan hanya untuk satu jenis hantavirus spesifik yang disebut virus Andes, di bawah kontak jarak dekat sangat intensif, seperti antara pasangan seks atau dari pasien ke staf rumah sakit. Karena itu, sangat mungkin kasus ini akibat dari satu titik paparan yang sama terhadap hewan pengerat," imbuhnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi bahwa tingkat kematian akibat Sindrom Paru Hantavirus (HPS) dapat mencapai 38 persen jika gejala pernapasan memburuk. Namun, risiko terhadap publik secara umum dinilai masih terkendali.

"Infeksi Hantavirus tak umum terjadi dan biasanya dikaitkan paparan hewan pengerat terinfeksi. Walau parah pada beberapa kasus, virus ini tak mudah menular antarmanusia. Risiko terhadap masyarakat luas tetap rendah. Tidak perlu panik atau melakukan pembatasan perjalanan," cetus Dr. Hans Henri Kluge, Direktur Regional WHO Eropa.

Pakar penyakit dari Cambridge University menyebutkan bahwa keberadaan tikus di transportasi laut bukanlah hal baru, namun ada kemungkinan masa inkubasi yang panjang memengaruhi waktu munculnya gejala.

"Bukan hal yang sepenuhnya aneh jika hewan pengerat menumpang di kapal, itu salah satu kemungkinannya. Orang yang sudah terinfeksi ketika kapal terakhir kali sandar di pelabuhan Argentina adalah kemungkinan lain, mengingat inkubasi bisa mencapai delapan minggu," ujar Dr. Charlotte Hammer, ahli penyakit Cambridge University.

Hingga saat ini, belum ditemukan obat khusus untuk hantavirus sehingga tim medis hanya fokus pada pemberian bantuan pernapasan dan cuci darah. Pakar penyakit menular mengingatkan agar tidak berspekulasi berlebihan mengenai penyebaran di wilayah lain.

"Ada beberapa dugaan penyebaran dari manusia ke manusia dapat terjadi tapi masih belum ada kesepakatan dan bukti belum terkonfirmasi. Jika pun penyebaran manusia ke manusia terjadi, itu sangat langka. Terlalu dini berspekulasi mengenai bagaimana korban bisa terinfeksi, tapi sangat kecil kemungkinan wabah ini menyebabkan peningkatan risiko di Inggris atau di tempat lain di Eropa," ujar Prof. Paul Hunter, pakar penyakit menular University of East Anglia.

Artikel terkait

Rekomendasi