Walmart berencana melakukan pemangkasan atau relokasi terhadap sekitar 1.000 karyawan korporat sebagai langkah restrukturisasi pada tim teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Kebijakan strategis ini dilaporkan terjadi pada Selasa (12/5/2026) guna menyatukan tim teknologi global perusahaan.
Langkah efisiensi ini diambil untuk memperkuat posisi Walmart dalam persaingan ritel melawan kompetitor utama seperti Amazon dan Costco. Berdasarkan laporan Wall Street Journal yang dilansir dari Sosok, integrasi tim dilakukan agar produk AI dan operasional perusahaan berjalan lebih optimal.
Para pegawai yang terdampak diminta untuk berpindah tugas ke kantor pusat Walmart yang berlokasi di Bentonville, Arkansas, atau ke wilayah California Utara. Meski demikian, pihak manajemen masih membuka kesempatan bagi karyawan tersebut untuk melamar posisi lain yang tersedia di internal perusahaan.
Proses restrukturisasi besar-besaran ini berada di bawah kendali Kepala AI Global Daniel Danker serta Chief Technology Officer (CTO) Walmart Suresh Kumar. Transformasi digital ini merupakan bagian dari visi jangka panjang perusahaan di bawah kepemimpinan CEO Walmart U.S., John Furner.
Walmart tercatat telah memperkenalkan sejumlah layanan berbasis AI generatif pada tahun 2025 untuk meningkatkan pengalaman berbelanja pelanggan. Inovasi berupa "super agent" tersebut dirancang untuk mengejar ketertinggalan dari fitur chatbot Rufus milik Amazon yang sudah lebih dulu beroperasi.
John Furner sendiri merupakan pemimpin veteran yang meniti karier di Walmart sejak tahun 1993 sebagai pekerja paruh waktu. Sebelum menduduki posisi puncak di divisi Walmart U.S. pada 2019, ia tercatat pernah menjabat sebagai pemimpin di jaringan ritel Sam’s Club.
Hingga tahun 2026, Walmart masih berada di bawah kendali dinasti keluarga Walton yang memegang sekitar 45 persen saham perusahaan. Kekayaan kolektif keluarga pendiri ini diperkirakan mencapai lebih dari US$400 miliar atau setara dengan Rp6.500 triliun menurut data Forbes.
Tiga anggota keluarga Walton, yakni Rob, Jim, dan Alice Walton, tetap konsisten berada dalam jajaran individu terkaya di dunia. Di sisi lain, manajemen Walmart tetap bersikap hati-hati dalam memproyeksikan pertumbuhan bisnis tahun ini mengingat kondisi konsumsi masyarakat di Amerika Serikat yang belum stabil.