Ratusan penduduk usia muda di Seoul, Korea Selatan, memilih untuk berkumpul dan berpartisipasi dalam kompetisi tidur siang pada Sabtu (2/5/2026). Aksi unik ini menjadi bentuk pelarian sementara dari tekanan budaya kerja keras yang sangat melelahkan di negara tersebut.
Pemerintah kota menyelenggarakan acara ini sebagai langkah nyata merespons fenomena kurang tidur yang melanda warga. Dilansir dari Detik Health, para peserta mulai memadati area taman di pinggiran Sungai Han sejak pukul 3 sore waktu setempat untuk mengikuti 'kontes tidur siang singkat' di bawah terik matahari musim semi.
Ada beberapa kriteria yang ditetapkan bagi siapa pun yang ingin menjadi peserta. Mereka diwajibkan datang dalam keadaan lelah, perut yang sudah terisi kenyang, serta mengenakan kostum-kostum unik yang menarik perhatian.
Ritme kehidupan yang bergerak sangat cepat di Seoul menjadi latar belakang kuat munculnya acara ini. Dengan pusat belanja yang beroperasi 24 jam dan persaingan kerja yang ketat, raut kelelahan terlihat jelas pada wajah-wajah peserta yang hadir.
"Antara persiapan ujian dan pekerjaan paruh waktu, saya hanya tidur tiga atau empat jam setiap malam, ditambah tidur siang di meja kerja," kata Park Jun-seok, mahasiswa 20 tahun yang mengenakan jubah ala raja Dinasti Joseon, dikutip dari Channel News Asia.
"Saya di sini untuk memamerkan kemampuan tidur siang saya, dan untuk menunjukkan bagaimana seorang raja tidur," lanjutnya.
Selain Park, peserta lain bernama Yoo Mi-yeon (24) tampil dengan kostum koala. Perempuan ini mengaku sering mengalami gangguan tidur atau insomnia yang membuatnya sulit beristirahat dengan tenang.
"Saya selalu mengalami insomnia, kesulitan tidur, dan mudah terbangun. Koala terkenal karena tidurnya yang nyenyak," terang Mi-yeon.
Ia berharap penggunaan kostum tersebut dapat membantunya merasakan keajaiban tidur nyenyak layaknya seekor koala.
Realita Jam Kerja Panjang Korea Selatan
Penyelenggaraan kontes ini telah memasuki tahun ketiga dan terus menjadi sorotan karena mencerminkan problem kesehatan publik yang serius. Korea Selatan tercatat sebagai salah satu negara dengan jam kerja paling panjang.
Berdasarkan data, tingkat kurang tidur di Korea Selatan merupakan salah satu yang tertinggi di antara negara-negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Kondisi ini memicu kelelahan kronis bagi banyak lapisan masyarakat.
Petugas di lapangan secara ketat memantau detak jantung setiap peserta selama lomba berlangsung. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa mereka benar-benar masuk ke dalam fase tidur yang tenang dan stabil secara medis.
Pemenang utama dalam kompetisi tahun ini diraih oleh seorang pria berusia 80-an tahun. Sementara itu, posisi kedua diduduki oleh Hwang Du-seong (37), seorang karyawan kantor yang sering bekerja lembur.
"Saya benar-benar kelelahan, karena sering bekerja shift malam di samping pergi bekerja setiap hari, ditambah lagi saya juga sering mengemudi untuk bekerja," beber Du-seong.
"Jadi ketika saya melihat kontes ini, saya bertekad untuk tidur agar dapat mengisi ulang energi sepenuhnya di tengah semilir angin sungai, dan saya sangat senang bisa meraih juara kedua," katanya.
Bagi warga Seoul, beristirahat dengan cukup masih dianggap sebagai barang mewah di tengah tuntutan budaya kerja yang tidak ada habisnya.