Investor legendaris Warren Buffett menunjukkan kedisiplinan tinggi dalam berinvestasi pada saham bernilai tinggi dengan prospek jangka panjang. Meski dikenal kerap menghindari saham teknologi murni, dua perusahaan besar berbasis kecerdasan buatan (AI) justru menjadi bagian penting dari portofolionya.
Sekitar 25 persen dari total portofolio Berkshire Hathaway senilai US$315 miliar saat ini diinvestasikan dalam dua saham raksasa, yaitu Apple dan Amazon, seperti dikutip dari Personalfinance. Buffett mengambil alih kepemimpinan Berkshire Hathaway pada 1965 dan mencatatkan pertumbuhan luar biasa sejak saat itu.
Nilai per saham perusahaan melonjak lebih dari 5,5 juta persen hingga akhir 2024. Lonjakan ini jauh melampaui kenaikan indeks S&P 500 yang hanya berada di kisaran 39 ribu persen. Keberhasilan tersebut membuktikan kepekaan Buffett dalam memilih saham yang mampu bertahan menghadapi perubahan zaman, termasuk di era AI.
Apple menjadi saham terbesar di portofolio Berkshire Hathaway dengan menyumbang sekitar 24,3 persen dari total nilai investasi. Buffett sendiri pernah menyebut Apple sebagai salah satu dari tiga saham yang tidak akan pernah dijualnya.
Meskipun banyak pihak menilai Apple sebagai perusahaan teknologi, Buffett lebih melihatnya sebagai perusahaan barang konsumsi. Produk-produk seperti iPhone, MacBook, dan iPad membentuk ekosistem yang saling terhubung dan menciptakan basis pengguna yang sangat loyal.
Para pengguna Apple umumnya cenderung membeli produk dalam satu ekosistem, sehingga merek ini tidak sekadar menjadi teknologi melainkan gaya hidup. Penjualan iPhone masih menjadi motor utama pendapatan Apple dan mencapai sekitar separuh dari total penjualan perusahaan.
Peningkatan pembelian model terbaru menunjukkan loyalitas pengguna yang kuat, terutama setelah pandemi ketika digitalisasi meningkat pesat. Di sisi lain, beberapa analis sempat mengkhawatirkan posisi Apple dalam perlombaan AI karena dianggap tertinggal dari pesaing.
Namun, peningkatan penjualan iPhone menandakan bahwa pengguna tetap puas dengan performa perangkatnya, termasuk fitur berbasis AI yang disematkan. Hal ini menjadi alasan Buffett tetap menaruh kepercayaan tinggi pada Apple karena kekuatan merek dan loyalitas konsumennya.
Amazon Miliki Potensi Besar di Sektor AI Global
Porsi saham Amazon hanya sekitar 0,7 persen dari portofolio Berkshire Hathaway, namun peran perusahaan ini dalam dunia AI sangat signifikan. Amazon merupakan salah satu pemain utama di sektor AI berkat inovasi di layanan cloud miliknya, Amazon Web Services (AWS).
Melalui AWS, Amazon menyediakan infrastruktur dan alat bagi pengembang untuk membangun model bahasa besar (LLM) serta mengakses berbagai model melalui platform Bedrock. Perusahaan juga menginvestasikan ratusan juta dolar untuk memperluas layanan AI-nya.
Kini Amazon mencatatkan pendapatan tahunan dari AWS yang menembus US$100 miliar. CEO Amazon, Andy Jassy, bahkan menegaskan bahwa hampir seluruh aspek pekerjaan manusia akan dipengaruhi secara signifikan oleh AI.
Amazon terus memperkuat fondasi bisnisnya, termasuk mengembangkan chip dan perangkat keras sendiri untuk mendukung efisiensi biaya dan memperluas daya sang di sektor ini. Menariknya, Buffett tidak membeli saham Amazon karena ingin mendapatkan eksposur terhadap teknologi AI semata.
Keputusan tersebut didasari keyakinannya bahwa Amazon memiliki fondasi bisnis konsumen yang kuat. Bisnis tersebut ditopang oleh inovasi yang terus berkembang dan peluang jangka panjang yang besar.
Kombinasi Nilai Klasik dan Inovasi Modern
Keputusan Warren Buffett menempatkan porsi besar investasinya di Apple dan sebagian kecil di Amazon menunjukkan pola pikir khasnya. Ia selalu mencari perusahaan dengan nilai jangka panjang, manajemen solid, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman.
Meskipun Buffett dikenal berhati-hati terhadap teknologi baru, strategi ini membuktikan kemampuannya menyeimbangkan nilai klasik dan inovasi modern. Apple menguasai loyalitas konsumen, sedangkan Amazon menjadi motor penggerak AI global.