Pasar saham sering kali mengalami fluktuasi yang tidak terduga hingga menyebabkan kepanikan bagi para investor awam. Namun, situasi penurunan tajam ini justru dipandang sebagai peluang oleh investor global terkemuka, Warren Buffett.
Dikutip dari Personalfinance, Buffett menyarankan para pelaku pasar untuk menjaga ketenangan dan tidak terburu-buru menjual aset mereka. Reaksi cepat yang didasari kepanikan saat harga merosot justru berisiko mengunci kerugian modal investor.
Buffett meyakini bahwa pasar saham pada dasarnya berfungsi untuk mengalihkan dana dari pihak yang tidak sabar kepada mereka yang tenang. Oleh karena itu, ia meminta investor melihat penurunan harga sebagai gangguan jangka pendek semata.
Salah satu pandangan terkenal dari Buffett mengajak investor untuk menjadi berhati-hati saat orang lain serakah, dan menjadi serakah hanya ketika orang lain merasa takut.
"Be fearful when others are greedy, and be greedy only when others are fearful."
Strategi ini diterapkan Buffett saat krisis keuangan tahun 2008 dengan mengalokasikan dana ke Goldman Sachs melalui kesepakatan obligasi preferen berdividen 10% dan saham warrant. Langkah berani tersebut pada akhirnya memberikan keuntungan besar bagi Berkshire Hathaway.
Prinsip berikutnya adalah konsisten melihat kekuatan fundamental dari sebuah bisnis. Buffett tidak memedulikan pergerakan harga jangka pendek dan lebih memilih fokus pada relevansi produk serta prospek jangka panjang perusahaan.
Ia mencontohkan bahwa penurunan harga saham sebesar 30% tidak akan mengubah jumlah konsumen yang meminum Coca-Cola atau menggunakan kartu American Express. Jika fundamental tidak berubah, maka koreksi yang terjadi hanyalah reaksi berlebihan dari pasar.
Rekam Jejak Investasi Jangka Panjang
Pada tahun 1973, Buffett membeli saham Washington Post ketika kondisi pasar sedang melemah dengan harga di bawah nilai intrinsik. Meski harga sahamnya sempat turun lagi setelah pembelian, ia memilih bertahan karena percaya pada potensi bisnis tersebut.
Keputusan tersebut terbukti tepat ketika investasi awal sebesar US$ 10,6 juta melonjak nilainya menjadi lebih dari US$ 200 juta pada tahun 1985.
Selain itu, Buffett mengingatkan investor untuk menghindari strategi menebak momentum pasar atau market timing. Ia menilai upaya memprediksi waktu naik turunnya pasar sebagai tindakan yang tidak efektif dan lebih memilih strategi mempertahankan aset dalam jangka panjang.
Komitmen ini ditunjukkan lewat kepemilikan saham Coca-Cola selama puluhan tahun serta saham American Express yang terus dipertahankan sejak era 1960-an.
Terakhir, Buffett menekankan pentingnya memiliki cadangan dana tunai yang likuid sebagai modal siap pakai. Berbeda dengan pandangan umum yang menyarankan alokasi investasi penuh, Buffett menganggap kas sebagai amunisi untuk membeli aset saat harga murah.
Melalui surat kepada pemegang saham pada tahun 2010, Buffett menegaskan komitmennya untuk selalu menyediakan dana tunai minimal sebesar US$ 10 billion di dalam kas perusahaan.