Waspadai Gula Tersembunyi di Balik Hidangan Lebaran Idul Adha

Waspadai Gula Tersembunyi di Balik Hidangan Lebaran Idul Adha

Momen perayaan Idul Adha biasanya identik dengan perhatian masyarakat yang tertuju pada asupan lemak dan kolesterol dari daging kurban.

Namun, terdapat aspek kesehatan lain yang kerap terabaikan, yakni kandungan gula tersembunyi pada hidangan Lebaran Haji.

Dikutip dari Suara, banyak menu khas yang tidak berasa manis tetapi menyimpan potensi memicu lonjakan glukosa darah secara drastis.

Makanan berbahan dasar tepung terigu seperti bakwan atau gorengan pelengkap menjadi salah satu penyumbang gula yang sering disepelekan.

Tepung terigu mengandung karbohidrat cepat cerna yang mencapai angka sekitar 77 persen.

Enzim amilase dalam sistem pencernaan akan memecah tepung halus ini dengan sangat cepat menjadi glukosa bebas yang langsung terserap darah.

Kondisi tersebut menciptakan ilusi rasa asin yang membuat seseorang merasa aman, padahal beban glikemiknya tetap tinggi.

Menu wajib pendamping daging seperti ketupat, lontong, dan nasi putih juga harus diperhatikan karena termasuk jenis karbohidrat sederhana.

Ketiga makanan ini sangat cepat merangsang kenaikan kadar gula dalam darah.

Pasien diabetes sangat disarankan membatasi porsi konsumsinya hanya sekitar 100 gram untuk sekali makan.

Sebagai alternatif guna menjaga kestabilan kadar glukosa, konsumsi dapat diganti dengan beras merah yang lebih tinggi serat.

Jebakan Manis dari Bumbu dan Santan

Kandungan gula tambahan yang cukup tinggi juga ditemukan dalam penggunaan kecap manis pada menu sate, semur, atau tongseng.

Sajian dengan kecap manis berlebih, baik saat proses marinasi maupun sebagai kuah kental, dapat menjadi jebakan bagi penderita diabetes.

Dokter spesialis gizi menyarankan pembatasan penggunaan kecap hanya 1-2 sendok makan untuk satu kali makan.

Langkah ini penting dilakukan agar risiko lonjakan kadar glukosa tidak meningkat secara tajam.

Selain bumbu kecap, bahan dasar santan pada opor, rendang, dan gulai memiliki indeks glikemik yang sangat tinggi di angka 97.

Walaupun beban glikemiknya rendah, santan tetap berpotensi memengaruhi kadar gula darah secara perlahan jika dikonsumsi tanpa kontrol.

Bumbu kacang pada sate juga perlu diwaspadai karena kerap dicampur gula merah dan kecap manis untuk menghasilkan rasa gurih-manis.

Akumulasi gula yang besar dapat terjadi akibat kombinasi karbohidrat dari lontong, gula bumbu kacang, serta pengaruh glikemik santan.

Menyertakan sayuran berserat tinggi di piring makan menjadi solusi seimbang untuk memperlambat penyerapan glukosa dari hidangan tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi