Kebijakan WFH Jumat Berisiko Ganggu Kesehatan Mental Pekerja Muda

Kebijakan WFH Jumat Berisiko Ganggu Kesehatan Mental Pekerja Muda

Kebijakan bekerja dari rumah atau WFH pada hari Jumat bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) generasi Z dilaporkan memicu risiko kesehatan mental berupa rasa sepi mendalam akibat minimnya interaksi fisik. Hal tersebut disampaikan oleh Psikolog Klinis Clement Eko Prasetio pada Selasa (5/5/2026) sebagaimana dilansir dari Lifestyle.

Meskipun kebijakan ini dianggap membantu menghemat energi sosial, berkurangnya tatap muka secara drastis dapat menyebabkan stres hingga kondisi burnout. Pekerja muda diimbau untuk mengenali perbedaan antara keinginan menyendiri dengan isolasi sosial yang berisiko bagi stabilitas emosional mereka.

"Kesepian itu adalah persepsi subjektif bahwa seseorang tidak mendapatkan kedekatan sosial yang dibutuhkan atau yang diinginkan oleh dia," kata Clement yang berpraktik di Indopsycare.

Clement menjelaskan bahwa kesepian bersifat subjektif karena seseorang tetap bisa merasa sendiri meski memiliki banyak koneksi digital. Sebaliknya, isolasi sosial merupakan kondisi objektif di mana individu benar-benar terputus dari aktivitas komunikasi dengan orang lain.

"Isolasi sosial itu berarti misalnya enggak punya teman sama sekali, enggak pernah punya media sosial, terkurung di dalam sebuah rumah sendirian," terang Clement.

Faktor lain yang memicu kesepian selama WFH adalah pola komunikasi melalui platform digital seperti Zoom atau Microsoft Teams yang cenderung terlalu formal. Interaksi yang terjadi umumnya hanya terbatas pada urusan pekerjaan tanpa adanya ruang untuk obrolan personal layaknya saat jam istirahat di kantor.

"Kalau kita bicara atau ngobrol melalui Zoom atau Microsoft Teams di dalam konteks pekerjaan, itu biasanya bukan ngomongin hal personal," tutur Clement.

Guna menjaga kedekatan emosional, Clement menyarankan para pekerja tetap menjalin kontak dengan rekan sejawat di luar agenda resmi perusahaan. Pemanfaatan panggilan video atau interaksi di media sosial dianggap perlu agar layar komputer tidak menjadi satu-satunya jembatan komunikasi selama bekerja.

"Tetap mendorong para pekerja muda ini untuk tetap terhubung dengan teman-teman kantornya atau teman-teman pribadinya dia," ujar Clement.

Lebih lanjut, inisiatif untuk menghubungi orang lain secara aktif menjadi kunci utama dalam mengatasi rasa sepi. Clement memberikan perumpamaan bahwa kebutuhan bersosialisasi layaknya rasa lapar yang harus dipenuhi secara mandiri tanpa menunggu bantuan orang lain datang.

"Zaman sekarang adalah zaman di mana kita perlu lebih banyak reach out duluan aja. Karena kalau kita enggak reach out duluan, nanti kita semakin merasa terisolasi," tutur Clement.

Artikel terkait

Rekomendasi