Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan dunia sedang memasuki masa yang berbahaya akibat ancaman berbagai wabah penyakit menular lintas negara pada Senin (18/5/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan saat membuka Sidang Majelis Kesehatan Dunia di Jenewa, seperti dilansir dari Detik Health. Tedros menyoroti kemunculan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo dan penyebaran hantavirus Andes virus di kapal pesiar MV Hondius.
"Kedua wabah tersebut hanyalah krisis terbaru di dunia kita yang penuh masalah," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.
Kondisi ini diperparah oleh akumulasi berbagai ancaman global yang terjadi secara simultan. Menurut Tedros, masyarakat internasional kini harus menghadapi konflik, krisis ekonomi, perubahan iklim, hingga pemotongan bantuan internasional secara bersamaan.
"Dari konflik hingga krisis ekonomi hingga perubahan iklim dan pemotongan bantuan, kita hidup di masa-masa sulit, berbahaya, dan memecah belah," ujar Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.
Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, turut memberikan pandangan mengenai situasi tersebut dalam forum yang sama. Spanyol sebelumnya mendapatkan apresiasi atas langkahnya mengizinkan kapal MV Hondius bersandar di Kepulauan Canary untuk evakuasi.
"Tidak ada negara yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri," kata Pedro Sánchez, Perdana Menteri Spanyol.
Sánchez juga menyesalkan respons global yang dinilainya kurang bersatu dalam menghadapi ancaman kesehatan ini. Ia menilai egoisme antarkomunitas internasional tengah menjadi hambatan besar.
"Saat ini, membela akal sehat telah menjadi bentuk pemberontakan," ujar Pedro Sánchez, Perdana Menteri Spanyol.
Krisis kesehatan global ini mencuat di tengah keterbatasan finansial yang dialami oleh organisasi kesehatan tersebut. Menteri Kesehatan Swiss, Elisabeth Baume-Schneider, mengungkapkan bahwa institusi global ini tengah mengalami tekanan anggaran yang sangat signifikan.
"Anggaran WHO telah dikurangi sekitar 21 persen, atau hampir US$1 miliar (sekitar Rp 17 triliun). Ratusan pekerjaan telah dihilangkan, program-program telah dikurangi," kata Elisabeth Baume-Schneider, Menteri Kesehatan Swiss.
Kendati demikian, Baume-Schneider menegaskan pentingnya langkah pembenahan di internal organisasi demi menghadapi situasi darurat yang sedang berlangsung.
"WHO harus, dan mampu, menjalani reformasi mendalam di tengah keadaan darurat," kata Elisabeth Baume-Schneider, Menteri Kesehatan Swiss.
Urgensi penguatan institusi kesehatan ini juga didukung oleh pengamat eksternal. Direktur Pusat Kesehatan Global Geneva Graduate Institute, Suerie Moon, menekankan bahwa kehadiran lembaga koordinasi yang kuat sangat krusial dalam menangani kasus hantavirus saat ini.
"Krisis hantavirus memberikan ilustrasi yang jelas mengapa dunia membutuhkan WHO yang efektif, tepercaya, tidak memihak, dan didanai secara andal," kata Suerie Moon, Direktur Pusat Kesehatan Global Geneva Graduate Institute.
Selain penanganan wabah, jalannya sidang juga dibayangi oleh ketidakpastian politik internasional, termasuk rencana penarikan diri Amerika Serikat yang diajukan Donald Trump sejak Januari 2025 serta langkah serupa dari Argentina yang terhambat kewajiban finansial.
Presiden Ghana, John Dramani Mahama, menilai dinamika ini merupakan tanda terjadinya pergeseran besar dalam tatanan kesehatan pascapandemi COVID-19.
"Enam tahun setelah pandemi global terakhir, COVID-19, arsitektur kesehatan dunia berubah dengan cepat," tutur John Dramani Mahama, Presiden Ghana.
Mahama menyerukan agar seluruh negara bersiap menghadapi perubahan regulasi kesehatan internasional serta penyusunan perjanjian pandemi baru yang hingga kini belum mencapai kesepakatan terkait distribusi vaksin dan obat-obatan.
"Kita menyaksikan akhir dari sebuah era. Kita harus berani membangun era berikutnya," tutur John Dramani Mahama, Presiden Ghana.