Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi temuan klaster kasus Hantavirus yang menyerang penumpang dan kru kapal pesiar MV Hondius di lepas pantai Cape Verde. Pengumuman ini memicu kehebohan di media sosial setelah sebuah unggahan lama dari tahun 2022 kembali viral karena dianggap memprediksi kemunculan wabah tersebut pada tahun 2026.
Dilansir dari Detik iNET, laporan awal menunjukkan terdapat tujuh hingga delapan kasus teridentifikasi yang melibatkan warga dari 23 negara berbeda. Insiden ini mengakibatkan tiga orang meninggal dunia, dengan dugaan sementara infeksi berasal dari strain Andes virus.
Kapal pesiar MV Hondius sebelumnya diketahui berangkat dari Ushuaia, Argentina, sebelum akhirnya menjalani isolasi dalam perjalanan menuju Spanyol. Otoritas kesehatan menduga paparan awal terjadi akibat kontak dengan hewan pengerat di wilayah pelabuhan atau pulau di Amerika Selatan yang sempat disinggahi.
Fenomena ini ramai diperbincangkan setelah akun X @iamasoothsayer mengunggah tulisan singkat pada tahun 2022 yang menyebutkan Hantavirus akan muncul pada 2026. Meski memicu teori konspirasi di kalangan netizen, banyak pihak menilai kemunculan unggahan tersebut hanyalah kebetulan semata.
"Ini bukan ramalan. Hantavirus sudah lama dikenal ilmuwan," tulis salah satu pengguna X.
Komentar tersebut merujuk pada fakta sejarah bahwa Hantavirus pertama kali diidentifikasi secara ilmiah oleh Ho Wang Lee pada tahun 1978. Nama virus ini diambil dari Sungai Hantan di Korea Selatan setelah menyerang tentara pada masa Perang Korea.
Hantavirus merupakan bagian dari keluarga Hantaviridae yang umumnya menular melalui kotoran, urine, atau air liur hewan pengerat. Manusia dapat terjangkit apabila menghirup partikel udara yang telah terkontaminasi oleh limbah hewan tersebut.
Meskipun varian Andes virus memiliki potensi penularan antarmanusia, WHO menegaskan bahwa risiko global saat ini masih berada pada level rendah. Situasi di kapal MV Hondius ditegaskan bukan merupakan awal dari pandemi baru seperti COVID-19.
Saat ini belum tersedia obat spesifik untuk menangani infeksi Hantavirus, sehingga tim medis lebih berfokus pada pemberian terapi suportif bagi gangguan ginjal dan pernapasan. Masyarakat diimbau untuk menjauhi area yang terkontaminasi kotoran rodent guna mencegah penularan.