Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi temuan klaster kasus virus hanta yang terkait dengan kapal pesiar MV Hondius, dengan total delapan laporan kasus termasuk tiga kematian hingga Jumat, 8 Mei 2026. Lima dari delapan kasus tersebut telah teridentifikasi secara medis sebagai infeksi virus hanta jenis strain Andes yang memiliki kemampuan transmisi antarmanusia melalui kontak dekat.
Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, memberikan pengarahan terkait situasi darurat kesehatan di kapal milik Oceanwide Expeditions tersebut. Kapal MV Hondius memulai perjalanannya dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April dan dijadwalkan tiba di Kepulauan Canary, Spanyol, pada 10 Mei mendatang.
"While this is a serious incident, WHO assesses the public health risk as low." ujar Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.
Beliau juga menambahkan peringatan mengenai potensi munculnya laporan kasus baru di masa mendatang. Hal ini didasarkan pada masa inkubasi virus yang cukup panjang.
"itโs possible that more cases may be reported." kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.
Fokus utama organisasi saat ini adalah memberikan perawatan kepada pasien yang terdampak serta memastikan keamanan penumpang lainnya. WHO juga berupaya keras mencegah penyebaran virus lebih lanjut di luar lingkungan kapal.
"Our priorities are to ensure the affected patients receive care, that the remaining passengers on the ship are kept safe and treated with dignity, and to prevent any further spread of the virus," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.
Berdasarkan data operasional, sebanyak 32 tamu telah turun di St. Helena pada 24 April sebelum wabah terdeteksi. Otoritas kesehatan global kini berpacu dengan waktu untuk melacak lusinan orang tersebut guna mencegah penyebaran di komunitas lokal.
Pemerintah Argentina saat ini tengah menyelidiki apakah wilayah mereka merupakan sumber awal infeksi. Kasus virus hanta di Argentina dilaporkan mengalami peningkatan dua kali lipat menjadi 101 infeksi sejak Juni 2025, yang menurut para ahli dipicu oleh dampak perubahan iklim terhadap populasi tikus.
Dua orang penyelidik yang enggan disebutkan namanya menyatakan bahwa hipotesis utama otoritas Argentina merujuk pada aktivitas pasangan asal Belanda sebelum naik ke kapal. Pasangan tersebut diketahui sempat melakukan pengamatan burung di Ushuaia dan menjelajahi wilayah hutan di Patagonia.
Tiga kematian yang telah dikonfirmasi mencakup pasangan suami istri asal Belanda dan seorang wanita berkebangsaan Jerman. Kematian pertama terjadi pada 11 April, disusul kematian kedua pada 26 April, dan korban ketiga menghembuskan napas terakhir pada 2 Mei 2026.
WHO mengoordinasikan respons melalui Peraturan Kesehatan Internasional (IHR) dengan melibatkan sedikitnya 12 negara yang warga negaranya berada di dalam kapal. Negara-negara tersebut termasuk Inggris, Amerika Serikat, Belanda, Jerman, hingga Singapura yang kini aktif memantau kondisi kesehatan warganya.
Respons Medis dan Pengujian
Sebagai langkah mitigasi, WHO telah mengirimkan seorang ahli ke atas kapal untuk melakukan penilaian medis menyeluruh terhadap seluruh penumpang dan awak. Selain itu, ribuan alat diagnostik telah didistribusikan dari Argentina ke berbagai laboratorium di lima negara untuk memperkuat kapasitas pengujian.
Pemerintah Argentina juga telah mengirimkan materi genetik virus Andes dan peralatan pengujian untuk membantu Spanyol, Senegal, Afrika Selatan, Belanda, dan Inggris. Langkah ini diambil karena gejala awal virus hanta sering kali menyerupai flu biasa, sehingga berisiko membuat pasien tidak segera mencari pertolongan medis.