Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi bahwa munculnya wabah hantavirus di atas kapal pesiar MV Hondius yang sedang berlayar di Samudra Atlantik bukan merupakan ancaman pandemi baru. Berdasarkan data yang dihimpun, insiden ini mengakibatkan tiga orang meninggal dunia dan sejumlah penumpang lainnya jatuh sakit.
Sebagaimana dilansir dari Lestari, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menjelaskan bahwa penyebaran virus ini memerlukan interaksi yang sangat intens dalam durasi yang cukup lama. Hal ini mencakup kontak antara anggota keluarga dekat atau tenaga kesehatan dengan penderita.
"Pada tahap ini, risiko kesehatan masyarakat secara keseluruhan masih rendah," ujar Tedros, Direktur Jenderal WHO.
Penjelasan teknis menunjukkan bahwa hantavirus merupakan kategori virus zoonosis yang bersumber dari hewan pengerat, di mana manusia terinfeksi melalui sisa ekskresi hewan tersebut. Strain Andes yang teridentifikasi di Amerika Latin menjadi satu-satunya jenis dengan kemampuan penularan antarmanusia dalam lingkup yang sangat terbatas.
Tedros merinci terdapat delapan kasus yang terdeteksi, terdiri dari lima kasus konfirmasi laboratorium dan tiga kasus lainnya yang diduga kuat berkaitan dengan strain Andes.
"Virus tidak peduli dengan politik, dan mereka tidak peduli dengan perbatasan. Kekebalan terbaik yang kita miliki adalah solidaritas," beber Tedros, Direktur Jenderal WHO.
Pelaksana tugas Direktur WHO, Maria Van Kerkhove, memberikan penegasan tambahan mengenai perbedaan fundamental antara virus ini dengan SARS-CoV-2 yang memicu krisis global tahun 2020. Karakteristik penyebaran hantavirus dinilai sudah sangat dipahami oleh para ahli medis karena sudah ditemukan sejak lama.
"Ini bukan SARS-CoV-2 ini bukan awal dari pandemi Covid. Virus hantavirus sudah ada sejak lama, kita mengenal virus ini, tidak menyebar dengan cara yang sama seperti virus corona," kata Maria Van Kerkhove, plt Direktur WHO.
Investigasi kronologis mengungkap bahwa korban jiwa pertama menunjukkan gejala pada 6 April 2026 sebelum wafat di kapal. Pasangan korban juga meninggal dunia di Afrika Selatan setelah sebelumnya melakukan perjalanan pengamatan burung di wilayah Amerika Latin yang merupakan habitat hewan pengerat pembawa virus.
Korban jiwa ketiga dilaporkan meninggal pada 2 Mei 2026, sementara satu pasien pria lainnya saat ini sedang menjalani perawatan intensif di rumah sakit Belanda setelah dievakuasi dari Afrika Selatan.
Perwakilan WHO di Cabo Verde, Ann Lindstrand, menyatakan dukungan penuh terhadap otoritas kesehatan setempat guna menanggulangi penyebaran lebih lanjut sejak awal masa wabah.
"Selama perjalanan ke Kepulauan Canary, kami telah membawa pasokan medis, sehingga jika seseorang jatuh sakit di kapal, akan ada dokter dan perlengkapan medis untuk merawat mereka selama perjalanan," tutur Ann Lindstrand, Perwakilan WHO di Cabo Verde.
Otoritas kesehatan internasional kini melakukan pelacakan kontak dan pengawasan ketat terhadap seluruh penumpang yang sudah turun maupun yang masih berada di kabin isolasi. Langkah disinfeksi menyeluruh dilakukan di atas kapal MV Hondius untuk memutus rantai transmisi virus secara efektif.