Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memproyeksikan wabah hantavirus yang menjangkiti kapal pesiar MV Hondius tidak akan memicu epidemi besar berskala luas pada Kamis (7/5/2026). Badan kesehatan PBB tersebut menilai situasi ini terkendali karena terjadi di lingkungan yang sangat spesifik.
Direktur Operasi Peringatan dan Respons Darurat Kesehatan WHO Abdirahman Mahamud menjelaskan bahwa pola interaksi di atas kapal menjadi faktor utama penilaian tersebut.
"Ini adalah lingkungan spesifik dan terbatas, tempat orang-orang berinteraksi dalam kontak dekat berkepanjangan," kata Mahamud.
Berdasarkan catatan teknis, WHO telah memantau langkah-langkah yang diambil oleh negara-negara anggota dalam menangani kasus ini. Evaluasi tersebut memperkuat keyakinan bahwa penyebaran virus tidak akan meluas ke masyarakat umum.
"Kami percaya wabah ini tak akan menyebabkan rantai penularan lanjutan," kata Mahamud.
Sejauh ini terdapat lima kasus terkonfirmasi virus Andes yang dideteksi melalui pengujian laboratorium di Swiss dan Afrika Selatan. Mahamud memberikan instruksi teknis mengenai penanganan individu yang terpapar untuk mencegah risiko sekecil apa pun.
"Pasien yang terinfeksi harus tetap diisolasi, sementara individu yang terpapar perlu menjalani pemantauan aktif hingga 42 hari, meski penerapannya dapat berbeda di tiap negara," kata Mahamud.
Direktur WHO untuk Kesiapsiagaan dan Pencegahan Epidemi serta Pandemi Maria Van Kerkhove memberikan penegasan bahwa karakteristik virus ini tidak bisa disamakan dengan wabah yang pernah melumpuhkan dunia sebelumnya.
"Ini bukan SARS-CoV-2. Ini bukan awal pandemi COVID," kata Van Kerkhove.
Perbedaan mendasar terletak pada mekanisme penularan, di mana hantavirus umumnya menyebar melalui limbah hewan pengerat dan sangat jarang menular antarmanusia.
"Penyebarannya tidak sama seperti virus corona," kata Van Kerkhove.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan bahwa pihaknya sudah menjalin komunikasi intensif dengan 12 negara yang warga negaranya berada di kapal tersebut. Negara-negara tersebut meliputi Kanada, Jerman, Singapura, hingga Amerika Serikat.
Investigasi awal menunjukkan bahwa dua kasus pertama memiliki riwayat perjalanan ke Amerika Selatan sebelum naik ke kapal. Lokasi yang mereka kunjungi merupakan area pengamatan burung yang menjadi habitat tikus pembawa virus Andes.
Saat ini, kapal MV Hondius dilaporkan tengah menuju Kepulauan Canary setelah mengantongi izin dari otoritas Spanyol. WHO menyimpulkan risiko penyebaran virus di lokasi tujuan tersebut tetap berada pada level yang relatif rendah.